Dummy P01
Perempuan Bukan Sekadar Berpartisipasi, Tetapi Ikut Tentukan Arah Industri Kripto Indonesia Ekonomi
Ekonomi
Kemarin

Perempuan Bukan Sekadar Berpartisipasi, Tetapi Ikut Tentukan Arah Industri Kripto Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Indonesia Blockchain Week (IDBW) edisi keenam yang berlangsung 12 hingga 13 Agustus 2026 sukses terselenggara. Konferensi yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan di industri blockchain dan Web3, mulai dari pelaku aset digital, perusahaan teknologi finansial, investor, korporasi, hingga pembuat kebijakan dari Indonesia dan berbagai negara. Tahun ini, IDBW 2026 usung tema “Turning Infrastructure into Impact” yang menyoroti perkembangan industri blockchain dari fase pembangunan dan eksperimen menuju penerapan teknologi yang mampu memberikan dampak nyata. Berbagai topik dibahas, termasuk implementasi blockchain di sektor keuangan dan pembayaran, tokenisasi aset, identitas digital, kecerdasan buatan, serta pengembangan infrastruktur.  Salah satu sesi yang menjadi perhatian adalah panel bertajuk “Building The Future, Her Way: Women Shaping Indonesia’s Crypto Industry”. Panel yang berlangsung pada 13 Agustus 2026 tersebut mengajak industri menggeser pembahasan mengenai perempuan di sektor kripto: dari sekadar melihat jumlah partisipasi menuju pengakuan atas peran mereka dalam menentukan strategi, bisnis, produk, dan pengembangan komunitas. Indonesia merupakan salah satu pasar kripto dengan tingkat adopsi yang kuat. Dalam Global Crypto Adoption Index 2025, Chainalysis menempatkan Indonesia pada peringkat ketujuh dunia dalam adopsi kripto akar rumput. Sementara, Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 mencatat hampir 20 juta investor kripto di Indonesia. Partisipasi perempuan juga menjadi bagian penting dari perkembangan tersebut. Berdasarkan Gemini 2022 Global State of Crypto Report, perempuan mewakili 51% pemilik aset kripto di Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan telah aktif berpartisipasi. Namun, partisipasi belum tentu diikuti oleh kewenangan yang setara dalam pengambilan keputusan.  Pesan utama sesi panel ini adalah partisipasi tidak sama dengan kuasa untuk menentukan arah industri. Ekosistem kripto perlu memastikan perempuan tidak hanya hadir sebagai pengguna dan investor, tetapi juga memperoleh ruang, kewenangan, dan dukungan untuk membentuk produk, strategi bisnis, serta masa depan industri. Diskusi dimoderatori oleh Rieka Handayani, SVP Marketing BTSE Indonesia, bersama empat panelis, diantaranya Stephanie Kusnadi, CSO BTSE Indonesia, Rika Hariman, CEO & Director CAMP Investment Technology, Theresa Tjandrawinata, Co-Founder & CEO yapp.com; Nadia Putri, Product Manager D3 Labs; serta Angelina Vivian, Bank 3.0 Business Development Manager Nobu.  Dalam diskusi tersebut, para panelis menguraikan berbagai keputusan konkret yang pernah mereka ambil, mulai dari keputusan bisnis dan pengembangan produk hingga strategi komunitas. Mereka juga membagikan tantangan yang dihadapi dalam perjalanan menuju posisi kepemimpinan serta perubahan yang terjadi ketika perempuan memiliki suara langsung di ruang pengambilan keputusan. Pendekatan tersebut menempatkan pengalaman kepemimpinan perempuan sebagai bukti nyata, bukan sekadar narasi mengenai keberagaman.  “Kehadiran perempuan di industri kripto perlu dilihat bukan hanya dari jumlah pengguna, tetapi juga dari seberapa besar kesempatan mereka untuk ikut menentukan arah produk, bisnis, dan komunitas. Ketika lebih banyak perempuan berada di ruang pengambilan keputusan, industri memperoleh perspektif yang lebih luas dan fondasi pertumbuhan yang lebih inklusif,” ujar Stephanie Kusnadi, Chief Strategy Officer BTSE Indonesia. Diskusi ditutup dengan pesan setiap perempuan harus memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan memimpin. Selain tersedianya kesempatan, perempuan juga perlu memperoleh kepemilikan atas tanggung jawab yang diberikan, didukung untuk menetapkan skala prioritas, dan memiliki ruang untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional dan personal. “Indonesia telah menunjukkan bahwa perempuan berpartisipasi aktif dalam industri ini. Tetapi, peran perempuan tidak hanya dapat dinilai dari jumlahnya. Hal yang lebih penting adalah seberapa banyak perempuan yang memperoleh kesempatan, kepercayaan diri, dan ruang untuk ikut menentukan ke mana industri ini akan bergerak selanjutnya,” ucap Stephanie Kusnadi, Chief Strategy Officer BTSE Indonesia.

IndCham dan Kedubes India Dorong Kepemimpinan Perempuan di Indonesia Nusantara
Nusantara
Kamis, 23 April 2026 | 08:38 WIB

IndCham dan Kedubes India Dorong Kepemimpinan Perempuan di Indonesia

Jakarta, katakabar.com - IndCham bekerja sama dengan Kedutaan Besar India di Jakarta gelar forum diskusi Hari Kartini 2026 di Wayang Auditorium, Kedutaan Besar India, Jakarta, Senin (20/4) lalu. Angkat tema “Celebrating Women Thought Leaders”, acara ini menghadirkan sejumlah tokoh perempuan lintas sektor untuk membahas kepemimpinan, kesetaraan, dan masa depan perempuan di tengah perubahan global. Forum ini tidak hanya menjadi ruang refleksi atas warisan R.A. Kartini, tetapi menegaskan peran perempuan sebagai penggerak utama dalam pembangunan ekonomi, kesehatan, hingga teknologi di Indonesia. Acara dibuka oleh Joint Secretary IndCham, Bipin Mishra, yang menekankan perempuan saat ini tidak lagi sekedar menjadi bagian dari kemajuan, tetapi telah berada di garis depan sebagai pemimpin perubahan. “Hari ini adalah tentang perempuan yang bukan hanya menjadi bagian dari kemajuan, tetapi juga memimpin kemajuan itu sendiri,” ujarnya. Sambutan resmi kemudian disampaikan Malvika Priyadarshani dari Kedutaan Besar India di Jakarta yang mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan Kartini, terutama dalam hal pendidikan dan kesetaraan. Ia menegaskan pemikiran Kartini tetap relevan hingga saat ini. “Di jantung perjuangan Kartini adalah keyakinan sederhana namun kuat bahwa perempuan berhak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi,” jelasnya. Malvika juga mengingatkan perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai dan membutuhkan keberanian untuk terus mempertanyakan norma serta bertindak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Panel pertama menghadirkan Gita Sabharwal sebagai United Nations Resident Coordinator Indonesia dan Leona A. Karnali sebagai CEO Primaya Hospital, yang dimoderatori oleh Aasthaa Maheshwari. Pada diskusi tersebut, Gita menekankan kehadiran perempuan dalam ruang pengambilan keputusan membawa perspektif yang berbeda dan berdampak nyata terhadap keberlanjutan kebijakan. “Ketika perempuan dilibatkan dalam proses penyelesaian konflik, hasilnya cenderung lebih bertahan dan tidak mudah runtuh,” ucapnya. Ia menyoroti Indonesia telah mengalami kemajuan signifikan dalam pemberdayaan perempuan, namun masih menghadapi tantangan struktural, terutama dalam hal keterwakilan di posisi strategis. “Ini bukan soal kurangnya talenta, karena talenta perempuan di Indonesia sangat banyak. Tantangannya ada pada faktor sistemik yang masih menjadi hambatan,” kupasnya. Sementara, Leona menekankan pentingnya kolaborasi lintas gender dalam membangun sistem kesehatan yang lebih baik dan inklusif. “Kita semua bekerja untuk satu tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas layanan kesehatan,” tuturnya. Ia juga membagikan prinsip kepemimpinan yang ia pegang dalam membangun tim. “Cintai diri sendiri, cintai tim, dan cintai pekerjaan,” imbuhnya. Peran Laki-laki Dorong Kesetaraan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menyoroti aspek yang sering luput dalam diskusi kesetaraan gender, yakni peran laki-laki sebagai bagian dari solusi. Ia menegaskan perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada perempuan. “Kalau kondisi perempuan ingin menjadi lebih baik, maka laki-laki juga harus berubah dan menciptakan ruang serta peluang,” ulasnya. Ia juga berbagi refleksi personal sebagai seorang ayah dari dua anak perempuan yang menghadapi tantangan di dunia kerja. Menurutnya, pengalaman tersebut membuka pemahamannya terhadap realitas yang dihadapi perempuan di lingkungan profesional. Ia lantas mengangkat contoh sejarah dari India, yakni sosok reformis sosial Maharshi Karve, yang berani menentang norma sosial pada masanya untuk memperjuangkan pendidikan dan hak perempuan. “Perubahan nyata terjadi ketika ada keberanian untuk bertindak, bahkan ketika harus menghadapi tekanan sosial,” sebutnya, merujuk pada perjuangan tokoh tersebut. Lalu Sandeep menegaskan kesetaraan gender membutuhkan perubahan pola pikir yang lebih luas di masyarakat. “Kesetaraan tidak akan tercapai jika hanya perempuan yang bergerak. Ini harus menjadi tanggung jawab bersama, termasuk laki-laki dalam posisi kepemimpinan,” terangnya. Perempuan dalam Media, Teknologi dan Ekonomi Kreatif Panel kedua menghadirkan Svida Alisjahbana, CEO GCM Group sekaligus Chair Jakarta Fashion Week, serta Catherine Hindra Sutjahyo sebagai Commissioner GoTo Group, dengan moderator Aparna Saxena. Diskusi ini menyoroti perjalanan karier, kepemimpinan, serta tantangan perempuan dalam sektor yang terus berkembang, khususnya media dan teknologi. Catherine menekankan pentingnya keberanian untuk terus berkembang di tengah perubahan yang cepat, terutama dengan hadirnya teknologi baru. “Ketika kita mulai merasa nyaman, mungkin justru itu saatnya untuk menaikkan standar dan keluar dari zona nyaman,” katanya. Ia menekankan kesetaraan tidak berarti menyeragamkan peran antara laki-laki dan perempuan. “Setara tidak berarti harus sama, justru perbedaan itu yang menjadi kekuatan dalam kepemimpinan,” ujarnya lagi. Sementara, Svita menyoroti pentingnya kesiapan menangkap peluang sebagai kunci kesuksesan. “Keberuntungan itu terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan,” imbuhnya. Ia juga menekankan perempuan perlu terus membangun ekosistem yang saling mendukung agar dapat berkembang secara berkelanjutan di berbagai sektor. Diskusi sepanjang acara menegaskan semangat Kartini tetap relevan dalam konteks modern, terutama dalam mendorong perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan di berbagai bidang. Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, forum ini menyoroti bahwa perjalanan menuju kesetaraan masih panjang dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Kartini 2026: Perempuan Bekerja Makin Stres dan Tren ‘Self-Care’ Bentuk Emansipasi Baru Nusantara
Nusantara
Rabu, 22 April 2026 | 16:10 WIB

Kartini 2026: Perempuan Bekerja Makin Stres dan Tren ‘Self-Care’ Bentuk Emansipasi Baru

Jakarta, katakabar.com - Sempeba peringatan Hari Kartini tahun 2026 inu soroti perubahan makna emansipasi perempuan di era modern. Kalau dulu perjuangan perempuan berfokus pada akses pendidikan dan kesetaraan hak, kini tantangan baru muncul bentuk menjaga kesehatan mental saat menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks terutama bagi perempuan urban yang menjalankan berbagai peran sekaligus. Data global dari Deloitte Women @ Work Report 2025 menunjukkan sekitar 36% perempuan pekerja mengalami level stress lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, sementara 29% merasa tidak bisa istirahat total selepas dari jam kerja. Tren serupa juga mulai terlihat di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana perempuan kerap menjalankan multi-peran sebagai profesional, ibu, sekaligus pengelola rumah tangga. Perempuan tidak hanya dituntut berkarier, tetapi tetap pegang tanggung jawab domestik dan sosial. Kombinasi ini menciptakan tekanan berlapis yang berdampak langsung pada kesehatan mental dan fisik. Fenomena ini mendorong munculnya pola perilaku baru: meningkatnya kebutuhan terhadap self-care sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan hidup. Aktivitas seperti spa dan relaksasi kini tidak lagi dipandang sebagai kemewahan, melainkan sebagai kebutuhan. Bali Wangi Spa, penyedia layanan home spa di Jakarta, mencatat bahwa lebih dari 72% pelanggannya merupakan perempuan umur 25 hingga 40 tahun, dengan peningkatan permintaan layanan hingga 35% pada weekday (Senin–Kamis) waktu enam bulan terakhir. “Perempuan sekarang ngga cuma pengen sukses, tapi juga mau tetap waras dan sehat. Kami melihat peningkatan permintaan layanan spa bukan karena tren semata, tapi karena kebutuhan nyata untuk mengelola stres,” ujar Fita, founder Bali Wangi Spa. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya diskursus publik mengenai kesehatan mental. Dalam berbagai platform digital, topik seperti burnout, anxiety, dan emotional exhaustion semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan perempuan Milenial dan Gen Z. Pada praktiknya, aktivitas relaksasi seperti pijat dan spa menjadi salah satu metode yang dipilih untuk meredakan tekanan tersebut. Berbeda dengan pendekatan medis, spa menawarkan solusi yang lebih holistik menggabungkan sentuhan fisik, aroma terapi, dan suasana yang menenangkan. Bali Wangi Spa usung konsep “Luxury Balinese Home Spa Experience”, menghadirkan pengalaman spa khas Bali langsung ke rumah pelanggan. Model ini dinilai relevan dengan kebutuhan perempuan urban yang memiliki keterbatasan waktu dan menginginkan kenyamanan tanpa harus keluar rumah. “Waktu adalah aset paling mahal bagi perempuan perkotaan. Dengan konsep home spa, mereka tidak perlu buang waktu macet-macetan di jalan,” ujarnya. Menariknya, peningkatan permintaan tidak hanya terjadi pada akhir pekan, tetapi juga pada hari kerja, khususnya malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa relaksasi kini menjadi bagian dari rutinitas, bukan aktivitas sesekali. Momentum Hari Kartini 2026 jadi refleksi bentuk emansipasi perempuan terus berkembang. Jika dahulu perempuan berjuang untuk mendapatkan ruang, kini mereka juga berjuang untuk menjaga keseimbangan dalam ruang tersebut. Bali Wangi Spa menilai kemampuan perempuan untuk merawat diri sendiri adalah bagian dari kekuatan, bukan kelemahan. Dalam konteks modern, emansipasi tidak hanya tentang produktivitas, tetapi juga tentang keberlanjutan—bagaimana perempuan bisa terus berfungsi secara optimal tanpa mengorbankan kesehatan. “Perempuan hebat hari ini bukan hanya yang mampu bekerja keras, tapi juga yang sadar kapan harus berhenti sejenak untuk memulihkan diri. Kalau dulu self-care dianggap egois, sekarang justru menjadi bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri. Itu adalah bentuk emansipasi modern,” tandasnya.

Lewat UMKM, Kolaborasi MB dan PHR Buka Harapan Kemandirian Ekonomi Perempuan Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 22 April 2026 | 15:09 WIB

Lewat UMKM, Kolaborasi MB dan PHR Buka Harapan Kemandirian Ekonomi Perempuan

Pekanbaru, katakabar.com - Sebuah perubahan besar sedang tumbuh dari tangan-tangan tangguh para perempuan di sudut Kota Pekanbaru. Komunitas Matahari Bertuah, dulunya hanya sekumpulan pelaku usaha kecil berjalan tanpa arah, kini bertransformasi jadi simbol keberdayaan ekonomi perempuan di tengah hiruk pikuk masyarakat Riau. Kesuksesan tidak datang tiba-tiba. Lahir pada 2022 lalu, Matahari Bertuah sempat melewati masa-masa sulit. Tanpa struktur kelembagaan yang jelas. Minimnya literasi bisnis kala itu, membuat komunitas ini hampir redup. Belum lagi kerumitan urusan legalitas dan administrasi sempat membuat semangat para anggotanya rontok satu per satu. "Jangan ragu untuk memulai, sebab usaha terbaik bukan yang paling sempurna, melainkan benar-benar dijalankan dengan keberanian," ujar Suci Angreini, Ketua Kelompok UMKM Matahari Bertuah, saat itu memotivasi rekan-rekannya.  Tetapi, titik balik itu datang di penghujung tahun 2025 melalui sentuhan Program Pengembangan UMKM Ekonomi Pemuda dan Perempuan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Bukan sekadar memberikan dukungan, PHR hadir membuka akses dan membenahi fondasi penguatan UMKM dengan memfasilitasi pengurusan legalitas kelompok untuk penguatan kelembagaan agar lebih tertib dan diakui. Para pelaku usaha juga diberikan pelatihan pengelolaan usaha yang meliputai: administrasi, pembukuan, dan penguatan kapasitas serta pendampingan berkelanjutan agar perubahan kebiasaan usaha benar-benar berjalan. “Intervensi yang diberikan bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan pembenahan fondasi yang meliputi fasilitasi legalitas kelompok, pelatihan tata kelola usaha, hingga pendampingan berkelanjutan,” ulas Suci. Ditengah dukungan PHR, Suci kian semangat, dan terus memotivasi para anggota dalam memulai usaha. Di bawah kepemimpinanya, kelompok ini mulai mempraktikkan disiplin baru: mencatat setiap rupiah yang keluar-masuk, membagi peran produksi secara profesional, hingga menjajaki dunia pemasaran digital. Hasil dari konsistensi ini mulai membuahkan hasil manis di kuartal pertama 2026. Aneka ragam produk yang awalnya muncul dari dapur sederhana kini tampil meramaikan pasar. Sebut saja seperti brownies kopi, brownies kukus ketan hitam, pie brownies dan pie susu diminati wisatawan baik lokal maupun mancanegara.  Matahari Bertuah mencatatkan rata-rata pemasukan mencapai Rp74 juta perbulan. Mereka membuktikan bahwa manajemen usaha yang tertata mampu menjadi pendorong ekonomi yang signifikan. Ini bukan hanya soal angka, dampak emosional pun terasa kuat. Para anggota yang sebelumnya didera kecemasan akan masa depan usaha, kini tampil lebih percaya diri. Keberhasilan ini semakin lengkap saat salah satu anggota mereka, seorang mahasiswi, berhasil menembus jajaran 10 besar finalis Rokan UMK Award 2025, ajang apresiasi UMKM Riau yang digelar PHR. Prestasi ini menegaskan pembinaan yang tepat mampu melahirkan wirausaha muda yang tangguh di masa depan. “UMKM Matahari Bertuah telah membuktikan kaum perempuan mampu menjadi aktor penggerak ekonomi bukan hanya bagi keluarga bahkan bagi daerah. Capaian ini sekaligus menjadi kado indah dalam semangat Hari Kartini. Kisah mereka adalah pengingat bahwa keterbatasan akses bukanlah akhir dari segalanya. Ketika perempuan diberikan ruang, dukungan, dan pendampingan yang tepat, mereka mampu mengubah keraguan menjadi kekuatan kolektif yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” cerita Manager CID PHR, Iwan Ridwan Faizal. Kini, Matahari Bertuah bukan lagi sekadar nama komunitas tempat berkumpulnya perempuan hebat, melainkan sebuah wadah kelembagaan yang sah dan siap menyongsong masa depan ekonomi yang berkelanjutan.

Cetak Talenta Kreatif Basis AI, Telkom AI Center Bali Perkuat Kapasitas Perempuan Tekno
Tekno
Rabu, 25 Februari 2026 | 18:37 WIB

Cetak Talenta Kreatif Basis AI, Telkom AI Center Bali Perkuat Kapasitas Perempuan

Bali, katakabar.com - Telkom AI Center of Excellence Bali (Telkom AI Center Bali) melalui program AI Connect menghadirkan Women in AI sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan keterampilan content creation berbasis kecerdasan buatan guna memperkuat kapasitas perempuan, mendorong lahirnya talenta kreatif yang adaptif, serta menyiapkan generasi future ready yang siap bersaing di era transformasi digital. Telkom AI Center of Excellence Bali (Telkom AI Center Bali) kembali mempertegas komitmennya dalam mendorong inklusivitas teknologi melalui webinar AI Connect Series bertajuk "Women in AI: Mastering Content Creation Skills for Future-Ready Career" yang digelar secara daring, Jumat (14/2). Acara ini menjadi wadah edukasi strategis bagi perempuan muda untuk mengambil peran sentral dalam industri kreatif berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Sesi pertama dibuka oleh Retno Pratiwi, seorang praktisi HR profesional. Dalam paparannya mengenai "Kebutuhan Industri dan Kompetensi Talenta", Retno menekankan standar rekrutmen saat ini telah bergeser. "Industri tidak lagi sekadar mencari kandidat dengan keunggulan akademis, melainkan talenta yang adaptif, solutif, dan memiliki growth mindset yang kuat," ujar Retno. Ia menggarisbawahi tiga pilar kompetensi utama bagi perempuan di era digital, yakni attitude dan mindset sebagai fondasi untuk terus berkembang, soft skills seperti komunikasi efektif dan berpikir kritis, serta hard skills berupa kecakapan digital dan pemahaman mendalam terhadap sistem kerja industri. AI sebagai 'Thinking Partner' Kreativitas Melengkapi perspektif teknis, Rachel Septiana, seorang Social Media Manager, membawa peserta mendalami sisi praktis dalam materi "AI Content Creation: From Idea to Execution". Rachel membedah bagaimana AI dapat diposisikan sebagai rekan berpikir (thinking partner) untuk mendongkrak produktivitas. Peserta diajak mempraktikkan langsung formula prompt efektif dan penyusunan content planner berbasis AI. "Konten terbaik lahir dari kolaborasi harmonis antara kreativitas manusia dan kecepatan teknologi AI," jelas Rachel di hadapan para peserta. Komitmen terhadap Inklusivitas Gender Sesi diskusi berlangsung interaktif dan mencerminkan tingginya minat perempuan Indonesia untuk menjadikan AI sebagai alat strategis dalam pengembangan karier. Indria Trisni Puspita, Business & Community Lead AI Connect Bali, menegaskan bahwa teknologi harus menjadi jembatan kesetaraan. “Kami ingin mendorong pemanfaatan AI yang tidak hanya canggih, tetapi juga bertanggung jawab dan berdampak positif. AI harus menjadi solusi nyata bagi tantangan global, termasuk isu inklusivitas dan kesetaraan gender di dunia digital,” tegasnya. Senada dengan hal tersebut, Mizan Lazuardi selaku Program Lead Telkom AI Connect, aminkan Retno. Ia menambahkan penguatan kapasitas perempuan di bidang AI merupakan bagian dari strategi jangka panjang membangun ekosistem talenta digital yang inklusif. “AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang akses dan kesempatan. Melalui AI Connect, kami ingin memastikan perempuan memiliki ruang, dukungan, dan kompetensi yang memadai untuk menjadi kreator, inovator, bahkan pengambil keputusan di era AI,” jelas Mizan. Melalui program ini, Telkom AI Center berharap dapat terus menjadi katalisator lahirnya inovator perempuan yang siap membentuk masa depan digital Indonesia yang lebih inklusif, merata, dan berdampak luas.

FLOQ Circle: Sisterhood Hadirkan Ruang Aman Bagi Perempuan Mengenal Aset Kripto Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 07 Februari 2026 | 15:08 WIB

FLOQ Circle: Sisterhood Hadirkan Ruang Aman Bagi Perempuan Mengenal Aset Kripto

yang berkomitmen menghadirkan layanan investasi aset digital yang aman, transparan, dan bertanggung jawab. Dengan lebih dari 1,5 juta pengguna, 255.000+ pengikut media sosial, serta komunitas yang terus berkembang dengan lebih dari 25.000 anggota aktif, FLOQ secara konsisten membangun ekosistem berbasis edukasi, inovasi, dan kepercayaan melalui inisiatif seperti FLOQ Academy dan FLOQ Circle. Melalui pendekatan inklusif dan berorientasi jangka panjang, FLOQ berupaya memperluas literasi finansial serta mendorong adopsi aset digital yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.

UNDP dan Komnas Perempuan Tekankan Penting Dukungan bagi Perempuan di Garis Depan Isu Iklim dan HAM Nusantara
Nusantara
Minggu, 30 November 2025 | 10:31 WIB

UNDP dan Komnas Perempuan Tekankan Penting Dukungan bagi Perempuan di Garis Depan Isu Iklim dan HAM

Jakarta, katakabar.com - Untuk mendukung pemerintah mempercepat langkah-langkah perlindungan yang konkret bagi perempuan pembela hak asasi manusia dan lingkungan, UNDP Indonesia dan Komnas Perempuan menyelenggarakan dialog kebijakan nasional bertajuk “Kita Punya Andil: Perkuat Perlindungan Holistik, Wujudkan Ruang Aman bagi Perempuan Pembela HAM”. Di seluruh Indonesia, perempuan pembela hutan, lahan, dan hak-hak masyarakat semakin menjadi sasaran karena menyuarakan pendapat. Banyak yang menghadapi intimidasi, kriminalisasi, dan kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi hanya karena melindungi masyarakat dan lingkungan. Tetapi, peran mereka tak tergantikan: merekalah yang pertama merespons kerusakan lingkungan, yang pertama menjaga kesejahteraan masyarakat, dan seringkali menjadi garda terdepan bagi ekosistem yang terancam. Dihadiri lebih dari 100 peserta, dialog ini menjadi puncak dari kampanye empat hari untuk memeringati Hari Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia Internasional, yang jatuh setiap 29 November, dan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dari 25 November hingga 10 Desember. Acara ini mempertemukan perwakilan kementerian/lembaga, organisasi masyarakat sipil, media, dan yang terpenting, perempuan pembela lingkungan dan hak asasi manusia dari Aceh hingga Papua. Diskusi ini menyoroti hambatan sistemik yang terus melemahkan keselamatan mereka: perlindungan hukum yang terbatas, kurangnya mekanisme respons cepat, dan diskriminasi yang terus-menerus, baik dalam struktur pemerintah maupun masyarakat. “Ketika kita melindungi perempuan pembela HAM, kita melindungi demokrasi itu sendiri,” ujar Maria Ulfah Anshor, Ketua Komnas Perempuan. “Komitmen multisektoral terhadap perlindungan holistik, yang mencakup dimensi hukum, digital, fisik, dan psikososial, merupakan bukti keyakinan bersama kita setiap perempuan berhak untuk membela hak asasi manusia, tanah, dan keadilan secara aman dan bermartabat. Bersama-sama, kita membangun ekosistem perlindungan yang tidak hanya responsif tetapi juga inovatif dan transformatif dalam mewujudkan demokrasi yang adil, setara, inklusif, dan ramah lingkungan,” tambahnya. Perwakilan pemerintah dari lembaga-lembaga kunci, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Hak Asasi Manusia, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, menegaskan kembali komitmen mereka untuk menutup kesenjangan perlindungan ini dan mengakui risiko yang semakin kompleks yang dihadapi oleh para perempuan pembela HAM. “Ketika kita melindungi para perempuan pembela HAM, kita melindungi hutan, masyarakat dan, hak-hak yang mereka perjuangkan, dan masa depan kita bersama,” kata Siprianus Bate Soro, Head of Risk, Resilience and Governance Unit UNDP Indonesia. "Di UNDP, kami percaya bahwa melindungi perempuan pembela HAM bukan hanya soal melindungi individu; melainkan melindungi ruang demokrasi, masa depan lingkungan, dan hak asasi manusia Indonesia. Kami tetap berkomitmen untuk mendukung upaya nasional dalam memperkuat kapasitas kelembagaan dan lingkungan di mana perempuan dapat memimpin, berpartisipasi, dan membela hak asasi manusia dengan rasa aman," jelasnya. Para perempuan pembela HAM yang bekerja di bidang advokasi lingkungan, penanganan kekerasan berbasis gender, kebebasan pers, dan hak-hak sosial-ekonomi berbagi kesaksian yang menarik. Meskipun bekerja di berbagai sektor, pengalaman mereka mengungkapkan realitas yang sama: berbagai ancaman saling terkait, dan perlindungan tidak dapat dilakukan secara terisolasi. Mereka menyerukan pengakuan hukum bagi perempuan pembela HAM, sistem dukungan darurat yang mudah diakses, dan proses kebijakan yang sungguh-sungguh mendengarkan dan mencerminkan realitas kehidupan mereka. Acara ini merupakan bagian dari proyek global UNDP, “Memperkuat Partisipasi dan Pengaruh Masyarakat Sipil Perempuan dan Perempuan Pembela HAM dan Lingkungan untuk Masa Depan yang Adil dan Hijau/Strengthening Women's Civil Society and Women Environmental Human Rights Defenders' Participation and Influence for a Just, Green Future,” yang didukung oleh Pemerintah Denmark, Luksemburg, dan Republik Korea melalui Jendela Pendanaan untuk Tata Kelola, Pembangunan Perdamaian, Krisis, dan Ketahanan/Governance, Peacebuilding, Crisis, and Resilience (GPCR). Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas, agensi, dan suara kolektif para perempuan pembela HAM sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung kerja advokasi mereka di tingkat lokal, nasional, dan global.

Dorong Pembinaan Perempuan, Al Hidayah Inhil Kukuhkan Pengurus 2025–2030 Riau
Riau
Selasa, 18 November 2025 | 23:20 WIB

Dorong Pembinaan Perempuan, Al Hidayah Inhil Kukuhkan Pengurus 2025–2030

Tembilahan, katakabar.com - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pengajian Al Hidayah Kabupaten Indragiri Hilir melantik pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pengajian Al Hidayah Kecamatan Tembilahan, Tembilahan Hulu, dan Pelangiran untuk masa bakti 2025–2030, di Gedung Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Indragiri Hilir, Selasa (18/11). Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Indragiri Hilir, Hj Zulaikah Wardan, S.Sos., M.E., menegaskan kelompok pengajian Al Hidayah merupakan organisasi binaan Partai Golkar yang berperan menggerakkan kaum perempuan dalam syiar dakwah hingga ke pelosok daerah, khususnya di Indragiri Hilir. “Saya berharap kegiatan ini dapat mendorong semakin aktifnya kaum perempuan dalam kelompok-kelompok pengajian di tingkat yang paling kecil,” ujarnya. Zulaikah mengajak Pengajian Al Hidayah untuk bersinergi dengan pemerintah daerah dalam pembinaan perempuan di berbagai sektor. Menurutnya, keberadaan Al Hidayah menjadi langkah strategis partai dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. “Al Hidayah Kabupaten Indragiri Hilir akan melakukan konsolidasi ke seluruh kecamatan. Hari ini dilantik DPC Al-Hidayah Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hulu. Selanjutnya akan dibentuk di kecamatan-kecamatan lainnya,” jelas Zulaikah, sekaligus Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Riau. Sementara, Plt Sekretaris DPD Golkar Indragiri Hilir, Ir. H. Ahmad Junaidi, AN, M.Si., menegaskan pelantikan tersebut sejalan dengan instruksi DPP Partai Golkar untuk melakukan pembenahan dan penyegaran struktur organisasi, baik organisasi yang didirikan maupun yang mendirikan partai, termasuk Pengajian Al Hidayah. “DPP telah menginstruksikan restrukturisasi kepengurusan di semua tingkatan,” tutur Junaidi.

Perkuat Peran Perempuan, Alfi Convex 2025 Taja Forum Pemimpin Logistik Nasional
Nasional
Jumat, 14 November 2025 | 16:37 WIB

Perkuat Peran Perempuan, Alfi Convex 2025 Taja Forum Pemimpin Logistik

Jakarta, katakabar.com - Alfi Convex 2025 taja forum "Breaking Barriers, Building Futures" yang menampilkan empat perempuan pemimpin asosiasi logistik dan maritim Indonesia. Forum ini membuktikan peningkatan representasi perempuan di sektor strategis nasional, dengan data menunjukkan pertumbuhan 3,36 persen dalam dua tahun terakhir. Sebagai upaya memperkuat peran perempuan di sektor strategis nasional, Alfi Convex 2025 gelar forum berjudul “Breaking Barriers, Building Futures: Indonesia Women Leaders in Logistics and Transport 2025.” Forum ini menandai momentum bersejarah dalam upaya mendorong inklusivitas dan kepemimpinan gender di industri logistik dan transportasi, sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Meskipun industri logistik dan transportasi merupakan sektor vital yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, keterlibatan perempuan di dalamnya masih sering dianggap terbatas. Forum ini hadir untuk mendobrak pandangan tersebut dengan menampilkan empat perempuan pemimpin asosiasi industri maritim dan logistik terkemuka di Indonesia. Peningkatan Representasi Perempuan Liana Trisnawati, Ketua Umum Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI), menyoroti peningkatan representasi perempuan yang nyata dalam sektor ini. “Kurum dua tahun terakhir, 2022-2024, persentase perempuan di sektor maritim telah meningkat sebesar 3,36 persen. Hal ini merupakan pengakuan nyata dari dunia usaha, politik, legislatif, dan korporasi terhadap kepemimpinan perempuan,” cerita Liana. Ia menambahkan persentase pelaut perempuan Indonesia bahkan berada di atas rata-rata global, yang masih kurang dari 2 persen. Carmelita Hartoto, Ketua Umum Indonesian Shipowners' Association (INSA) aminkan Liana. Ia menekankan penting bagi perempuan untuk diberikan kesempatan di industri ini. Ia menyatakan meski sering muncul keraguan apakah perempuan bisa menguasai pekerjaan di bidang shipping dan pelabuhan, kenyataannya menunjukkan bahwa perempuan pasti mampu melakukannya jika diberi peluang. Ia menambahkan dengan semakin majunya peran perempuan sebagai pemimpin negara, dan posisi pejabat perempuan yang strategis, industri ini pasti akan lebih maju. Sementara Utami Prasetiawati, Ketua Umum Perkumpulan Logistik Berikat Indonesia (PPLBI), membagikan strategi organisasinya memberdayakan perempuan, dengan menekankan bahwa kunci keberhasilan adalah terus belajar dan mengelilingi diri dengan orang-orang yang berorientasi maju. “Kami tidak memberikan pengecualian pada perempuan, saya tetap meminta karyawan perempuan untuk dinas luar, khususnya di pelabuhan. Kami tunjukkan semua itu bisa dipelajari, karena bisa jadi di bidang-bidang yang biasanya dikerjakan laki-laki, justru perempuanlah yang sukses,” jelas Utami. Juliana Sofhia Damu, FCILT, Wakil Ketua Umum Asia Tenggara, Global Woman in Logistics and Transport, menutup diskusi dengan pesan inspiratif. Ia menegaskan kepemimpinan adalah proses belajar yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa tidak ada "karpet merah" untuk mencapai kesuksesan. Satu-satunya jalan adalah memperlengkapi diri dengan knowledge dan skill yang memadai, serta terus meningkatkan kemampuan diri dalam literasi kepemimpinan.