Lebih Besar

Sorotan terbaru dari Tag # Lebih Besar

Dummy P01
Hilirisasi Mineral Ciptakan Nilai Lebih Besar Untuk Indonesia Nasional
Nasional
Rabu, 16 September 2026 | 08:33 WIB

Hilirisasi Mineral Ciptakan Nilai Lebih Besar Untuk Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Kekayaan mineral Indonesia tidak seharusnya berhenti sebagai komoditas yang diambil dari dalam bumi. Tetapi, melalui hilirisasi, sumber daya mineral dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mendukung pengembangan industri, menciptakan aktivitas ekonomi baru, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing nasional. Semangat tersebut menjadi bagian dari komitmen Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dalam mengelola sumber daya mineral Indonesia agar mampu memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Corporate Secretary ANTAM, Wisnu Danandi Haryanto, mengatakan perjalanan mineral tidak semestinya berakhir ketika sumber daya tersebut berhasil ditambang. Nilai sesungguhnya justru tercipta ketika mineral mampu diolah lebih lanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas. “Bagi ANTAM, setiap mineral memiliki perjalanan, mulai dari mine, kemudian diolah menjadi value, dan pada akhirnya harus memberikan meaning. Artinya, sumber daya mineral Indonesia harus mampu mendorong industri dan perekonomian, membuka peluang bagi masyarakat, sekaligus tetap dikelola dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” ujar Wisnu saat sosialisasi MediaMIND 2026 di Gedung Science Techno Park Universitas Indonesia, Jumat (11/9) lalu. Menurut Wisnu, hilirisasi bukan hanya mengenai pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian, tetapi bagaimana sumber daya alam dapat menciptakan manfaat ekonomi yang lebih besar di dalam negeri. Mineral yang sebelumnya memiliki nilai terbatas dapat diolah menjadi produk yang mendukung berbagai industri strategis, menarik investasi, mendorong transfer teknologi, serta menggerakkan pertumbuhan ekonomi di daerah. Transformasi tersebut antara lain terlihat pada komoditas bauksit dan nikel. Melalui rantai hilirisasi, bauksit dapat diolah menjadi alumina hingga aluminium yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi bahan baku bagi berbagai sektor industri. Sementara itu, nikel dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi produk bernilai tambah yang mendukung penguatan industri nasional, termasuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Hilirisasi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Berkembangnya industri pengolahan mineral turut mendorong tumbuhnya rantai pasok baru, investasi, transfer teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga hadirnya berbagai industri pendukung di sekitar wilayah pengembangan. “Ukuran keberhasilan pertambangan bukan hanya apa yang dapat dihasilkan hari ini, tetapi juga manfaat yang dapat kita tinggalkan bagi masyarakat, lingkungan, dan generasi mendatang,” terang Wisnu. Sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID terus mendorong hilirisasi sebagai salah satu instrumen strategis untuk memastikan kekayaan mineral Indonesia memberikan nilai tambah yang semakin besar di dalam negeri. Department Head Corporate Communication MIND ID, Pratiwa Dyatmika, mengatakan penguatan hilirisasi menjadi bagian penting dalam membangun industri nasional yang semakin kuat dan mandiri. “Hilirisasi menjadi bagian penting untuk memastikan sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah yang semakin besar di dalam negeri. Pertambangan bukan hanya mengenai komoditas yang dihasilkan, tetapi bagaimana kekayaan mineral tersebut dapat memperkuat industri, mendukung kemandirian nasional, serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” timpal Pratiwa. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi turut menopang kinerja Grup MIND ID. Sepanjang 2025, Grup MIND ID membukukan pendapatan sebesar Rp159,46 triliun serta memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan dividen sebesar Rp92,56 triliun. Tetapi, transformasi industri pertambangan tidak hanya diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi. Aspek sosial dan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat pertambangan dapat dirasakan secara berkelanjutan. Hingga 2025, Grup MIND ID telah menanam lebih dari 7,48 juta pohon dan mereklamasi lebih dari 7.800 hektare lahan. Melalui hilirisasi dan pengelolaan pertambangan yang berkelanjutan, sumber daya mineral Indonesia dapat bergerak dari sekadar hasil tambang menjadi penggerak industri, pencipta nilai tambah, serta fondasi bagi Indonesia yang semakin mandiri dan berdaya saing.

Kemitraan Indonesia–India: Pengembangan SDM Perlu Dapat Perhatian Lebih Besar Internasional
Internasional
Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:05 WIB

Kemitraan Indonesia–India: Pengembangan SDM Perlu Dapat Perhatian Lebih Besar

Jakarta, katakabar.com - Persahabatan yang semakin erat tengah terjalin antara dua pemimpin politik paling berpengaruh di Asia. Sejak kunjungan kenegaraan pertama Presiden RI, H Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 atas undangan Perdana Menteri India, Narendra Modi, kedua pemimpin berhasil membangun hubungan yang hangat dan saling percaya. Persahabatan tersebut akan semakin diperkuat melalui kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Modi ke Indonesia pada 6 hingga 8 Juli 2026 atas undangan Presiden RI. Kunjungan ini merupakan lawatan resmi pertama Modi ke Indonesia sejak Presiden Prabowo menjabat, sekaligus kunjungan keempatnya secara keseluruhan ke Indonesia. Tetapi, arti penting kunjungan ini jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan bilateral. Kunjungan tersebut mencerminkan semakin strategisnya hubungan Indonesia–India di tengah perubahan lanskap geopolitik dan ekonomi kawasan Indo-Pasifik. Pada saat Presiden RI, H Prabowo Subianto berkunjung ke India pada Januari 2025, kedua pemimpin telah menyepakati sejumlah agenda prioritas, antara lain memperdalam kerja sama pertahanan, memperluas perdagangan dan investasi, memperkuat keamanan maritim, meningkatkan kolaborasi di bidang teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta mempererat kemitraan di sektor kesehatan dan pendidikan. Pertemuan di Jakarta diharapkan menjadi momentum untuk mengubah berbagai komitmen politik tersebut menjadi implementasi yang nyata. Dari Look East Menuju Act East Kunjungan Perdana Menteri Modi juga mencerminkan semakin kuatnya keterlibatan India di Asia Tenggara. Dalam satu dekade terakhir, hubungan India dengan kawasan ini telah mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya lebih banyak berorientasi pada diplomasi melalui kebijakan Look East Policy, kini India mengembangkan pendekatan yang jauh lebih ambisius melalui Act East Policy. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa India tidak lagi sekadar ingin menjalin hubungan dengan Asia Tenggara, tetapi juga menjadi bagian penting dari arsitektur ekonomi kawasan. Bagi Asia Tenggara, India merupakan salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia sekaligus pasar yang dihuni lebih dari 1,4 miliar penduduk. Sebaliknya, bagi India, Asia Tenggara merupakan pintu gerbang menuju kawasan Indo-Pasifik, pusat manufaktur yang semakin penting, serta mitra strategis dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Hubungan ekonomi kedua belah pihak pun berkembang sangat pesat. Nilai perdagangan antara India dan Asia Tenggara hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, meningkat dari sekitar US$76 miliar pada 2014 menjadi US$140 miliar pada 2024. ASEAN kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar India dengan kontribusi sekitar 11 persen terhadap total perdagangan global negara tersebut. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia menjadi jangkar utama dalam hubungan ekonomi yang terus berkembang ini. Jika satu dekade terakhir ditandai oleh pertumbuhan perdagangan yang sangat pesat, maka satu dekade mendatang berpotensi menjadi periode yang jauh lebih penting. Pergeseran rantai pasok global mendorong banyak perusahaan untuk meninjau kembali strategi investasinya. Berbagai perubahan struktural yang sedang berlangsung menciptakan peluang baru bagi negara-negara yang mampu menawarkan ekosistem manufaktur yang saling melengkapi. Dalam konteks inilah Indonesia dan India memiliki peluang menjadi penggerak utama perubahan, ketika kedua pemimpin negara merumuskan arah baru bagi kemitraan bilateral. Seiring semakin banyak perusahaan global mengurangi ketergantungan pada satu basis produksi melalui strategi China+1 maupun China+Many, India dan Asia Tenggara tidak lagi dipandang sebagai pesaing, melainkan sebagai ekosistem manufaktur yang saling melengkapi di berbagai sektor seperti elektronik, otomotif, farmasi, semikonduktor, dan industri kimia. India mengembangkan berbagai kebijakan seperti Make in India dan National Logistics Policy, sementara negara-negara Asia Tenggara memiliki keunggulan masing-masing. Vietnam menjadi kekuatan utama dalam ekspor elektronik, Indonesia tengah membangun industri kendaraan listrik, Thailand mempertahankan posisinya sebagai pusat otomotif regional, sedangkan Malaysia memainkan peran penting dalam pengemasan dan pengujian semikonduktor. Bila dipadukan dengan peran Singapura sebagai pusat konektivitas global dan layanan keuangan kelas dunia, seluruh negara tersebut berpotensi membentuk rantai nilai regional yang semakin kuat dan terintegrasi. Pengembangan Sumber Daya Manusia Kunci Ketika Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Modi bertemu di Jakarta, pembahasan mereka seharusnya juga memberikan perhatian besar pada perkembangan teknologi paling revolusioner saat ini, yaitu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). AI akan mengubah secara mendasar cara manusia bekerja, belajar, berinteraksi, dan menjalani kehidupan di masa depan. Karena itu, kunci utama untuk memaksimalkan manfaat AI bukan semata-mata terletak pada teknologinya, melainkan pada kualitas sumber daya manusia yang mampu memanfaatkannya. Inilah salah satu bidang kerja sama Indonesia–India yang paling menjanjikan, namun hingga kini masih belum banyak mendapatkan perhatian. Kedua negara sama-sama memiliki populasi muda yang produktif dan membutuhkan lebih banyak lapangan kerja berkualitas serta peluang karier yang menjanjikan. Di tengah berbagai pembahasan mengenai perdagangan, pertahanan, dan teknologi digital, investasi pada pengembangan sumber daya manusia justru berpotensi memberikan dampak ekonomi jangka panjang yang paling besar bagi kedua negara. Membangun Talenta Masa Depan Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang besar dan produktif, tetapi masih menghadapi tantangan dalam memperluas ketersediaan talenta, terutama pada tingkat manajemen dan kepemimpinan. Di sisi lain, kekuatan terbesar India bukan hanya terletak pada besarnya jumlah penduduk, melainkan pada kedalaman ekosistem ekonomi berbasis pengetahuan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun. Meski demikian, hubungan akademik antara kedua negara masih belum berkembang seoptimal potensi yang dimiliki. Hingga kini, hanya sedikit perguruan tinggi India yang secara aktif membangun kemitraan strategis dengan universitas-universitas di Indonesia melalui pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, maupun penelitian bersama. Beberapa universitas Indonesia seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor memang telah menjalin Nota Kesepahaman (MoU) dengan berbagai institusi pendidikan tinggi terkemuka di India, termasuk Indian Institutes of Technology (IIT), Indian Institutes of Management (IIM), University of Delhi, dan Jawaharlal Nehru University. Namun, hingga kini belum banyak kemitraan berskala besar dan berdampak strategis seperti yang telah dibangun Indonesia bersama berbagai universitas di Australia, Jepang, Tiongkok, Singapura, maupun Amerika Serikat. Padahal, ruang untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan India masih sangat terbuka. Potensi terbesar justru tidak terletak pada program pertukaran mahasiswa konvensional. Yang lebih dibutuhkan adalah kolaborasi yang bersifat strategis, seperti penyelenggaraan pendidikan eksekutif, akademi bersama di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan keterampilan digital, pusat riset bersama, serta program pendidikan yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri. Bahkan, terbuka peluang membangun kemitraan segitiga antara perguruan tinggi Indonesia, India, dan Singapura untuk menghadirkan program pendidikan yang dapat melayani kebutuhan kawasan Asia Tenggara secara lebih luas. Apabila dipandang dari perspektif pembangunan ekonomi, kerja sama antarpendidikan tinggi dapat berkembang menjadi salah satu pilar utama hubungan Indonesia–India. India memiliki kapasitas yang sangat besar dalam mencetak insinyur, manajer, dan tenaga ahli teknologi, sementara Indonesia membutuhkan semakin banyak talenta di bidang-bidang tersebut untuk mendukung transformasi industrinya. Melalui kemitraan kelembagaan yang dirancang secara baik, Indonesia dapat mempercepat pengembangan sumber daya manusianya, sementara India memperluas pengaruh pendidikan tingginya di Asia Tenggara. Hasilnya bukan hanya menguntungkan sektor pendidikan, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi kedua negara dalam jangka panjang. Kemitraan semacam ini juga akan mempererat hubungan antarmasyarakat (people-to-people connections) sekaligus memperkuat hubungan antarlembaga. Ketika India semakin memperluas perannya di Asia Tenggara melalui kebijakan Act East, dan Indonesia terus mendorong transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi di bawah agenda ekonomi Presiden Prabowo Subianto, investasi pada pengembangan sumber daya manusia berpotensi menjadi fondasi utama fase berikutnya dalam hubungan bilateral kedua negara. Bagi berbagai institusi yang bergerak di bidang pendidikan eksekutif dan pengembangan kepemimpinan, momentum ini menghadirkan peluang yang sangat besar. Ke depan, pengembangan kepemimpinan kemungkinan akan menjadi sama pentingnya dengan perdagangan, investasi, maupun kerja sama pertahanan dalam memperkuat hubungan Indonesia–India. *Shoeb Kagda adalah Country Director Singapore Management University (SMU) Indonesia Office sekaligus Co-Founder Indonesia Economic Forum. Selama lebih dari tiga dekade, ia aktif mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan, bisnis, dan kebijakan publik, dengan fokus pada pengembangan kepemimpinan, pendidikan eksekutif, investasi, dan hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Asia.