FOMC

Sorotan terbaru dari Tag # FOMC

Dummy P01
Bittime Soroti Hasil FOMC September 2026 dan Dampaknya Pada Pasar Kripto Nasional
Nasional
Minggu, 20 September 2026 | 11:33 WIB

Bittime Soroti Hasil FOMC September 2026 dan Dampaknya Pada Pasar Kripto

Jalarta, katakabar.com - Bittime bahas hasil FOMC September 2026 dan pengaruhnya terhadap pergerakan pasar kripto serta sentimen investor. Dalam kondisi pasar yang dinamis, Bittime Futures menawarkan perdagangan futures aset kripto dengan pilihan posisi Long dan Short. Bittime Futures dapat menjadi salah satu pilihan bagi pengguna untuk menyesuaikan strategi perdagangan dengan kondisi pasar, dengan tetap memperhatikan penggunaan leverage, manajemen risiko, dan karakteristik perdagangan Futures. Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang menghadirkan ekosistem 3-in-1 berupa Spot, Staking, dan Futures dalam satu platform yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mencermati perkembangan terbaru pergerakan perdagangan di pasar kripto serta peluang bagi investor melalui Bittime Futures. Hal ini menyusul hasil keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat pada September 2026.  Federal Reserve (The Fed) menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% dalam rapat FOMC pada 15 hingga 16 September 2026 lalu. Berdasarkan pernyataan resmi Federal Reserve, keputusan tersebut diambil ketika inflasi masih berada pada level tinggi, sementara aktivitas ekonomi AS terus berkembang dengan solid.  FOMC dan Pengaruhnya terhadap Pasar Kripto Kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor makroekonomi yang diperhatikan pelaku pasar kripto. Perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya pendanaan, kondisi likuiditas, serta minat investor terhadap aset berisiko. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membuat kondisi keuangan lebih ketat dan memengaruhi minat terhadap aset seperti kripto, sementara ekspektasi kebijakan yang lebih longgar dapat meningkatkan risk appetite. Selain keputusan suku bunga, pasar juga mencermati arah kebijakan dan proyeksi The Fed. Berdasarkan proyeksi ekonomi FOMC September 2026, median proyeksi federal funds rate berada di 4,1% pada akhir 2026, sementara proyeksi inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) berada di 3,7%. Perubahan ekspektasi menjadi penting karena pasar dapat merespons bukan hanya keputusan FOMC, tetapi juga bagaimana keputusan tersebut dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya. Reuters melaporkan bahwa kenaikan suku bunga 25 basis poin telah banyak diantisipasi pasar, sehingga perhatian investor beralih pada sinyal kebijakan berikutnya dan proyeksi inflasi The Fed. Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menuturkan perkembangan kebijakan moneter dapat memengaruhi sentimen pasar karena pelaku pasar tidak hanya mencermati keputusan suku bunga saat ini, tetapi juga arah kebijakan berikutnya.  “Hasil FOMC September menunjukkan bahwa perkembangan inflasi masih menjadi salah satu pertimbangan penting dalam arah kebijakan moneter The Fed. Bagi pasar kripto, keputusan suku bunga dan ekspektasi terhadap kebijakan berikutnya dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen serta volatilitas pasar,” ujar Ryan.   Bitcoin dan Ethereum Bergerak Menguat Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada 18 September 2026 pagi, Bitcoin berada di kisaran harga US$76.698, menguat 0,42% dalam 24 jam terakhir, tetapi masih melemah 0,40% dalam sepekan. Sementara, pada periode yang sama, Ethereum berada di kisaran US$2.456, menguat 1,24% dalam 24 jam dan 0,15% dalam sepekan. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar kripto tetap dinamis setelah keputusan FOMC. Selain suku bunga, pelaku pasar dapat mencermati data inflasi, kondisi ekonomi, likuiditas, serta komunikasi The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya. “Pergerakan harga aset kripto tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Karena itu, memahami perkembangan ekonomi makro dan potensi volatilitas menjadi bagian penting dalam aktivitas perdagangan aset digital,” ucap Ryan.  Bittime Futures di Tengah Dinamika Pasar Di tengah kondisi pasar yang dinamis, Bittime Futures menyediakan akses terhadap perdagangan futures aset kripto yang memungkinkan pengguna mengambil posisi Long maupun Short. Fitur tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi pengguna dalam mengelola posisi sesuai dengan strategi dan pandangan terhadap pergerakan pasar yang memungkinkan pengguna mengambil posisi Long maupun Short.  Pengguna dapat menyesuaikan strategi perdagangan dengan kondisi pasar dan pandangan masing-masing, dengan tetap mempertimbangkan risiko yang melekat pada perdagangan Futures. Namun, perdagangan Futures memiliki risiko yang lebih tinggi karena penggunaan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus potensi kerugian. Pengguna perlu memahami mekanisme Futures dan menerapkan manajemen risiko sesuai dengan kemampuan masing-masing. “Setiap produk memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Bagi pengguna yang mempertimbangkan perdagangan Futures, penting untuk memahami mekanisme Long dan Short, penggunaan leverage, serta risiko yang menyertainya,” sebut Ryan.

Minggu, 20 September 2026 | 09:01 WIB

Bitcoin Bertahan di Atas US$75.000 Pasca FOMC, Ada Peluang Naik Lagi?

Dengan kondisi tersebut, pergerakan trading Bitcoin ke depan masih akan ditentukan oleh interaksi antara sentimen makro, kebijakan moneter AS, arus dana institusional, dan struktur teknikal pasar. Untuk jangka pendek, kemampuan BTC mempertahankan area US$75.000 menjadi salah satu indikator penting. Jika bertahan, pasar berpotensi kembali menguji US$78.000-US$78.200. Sebaliknya, kehilangan support US$74.000 dapat membuka ruang pengujian ulang area US$72.000-US$74.000.

Bittime Soroti Dampak Keputusan FOMC terhadap Pasar Kripto Internasional
Internasional
Jumat, 18 September 2026 | 10:31 WIB

Bittime Soroti Dampak Keputusan FOMC terhadap Pasar Kripto

Jakarta, katakabar.com - Bittime menyoroti dampak keputusan FOMC terhadap pergerakan Bitcoin, Ethereum, dan pasar kripto, termasuk pengaruh suku bunga, ekspektasi kebijakan moneter, serta sentimen pasar. Di tengah potensi perubahan volatilitas setelah keputusan The Fed, Bittime Futures menyediakan akses perdagangan futures dengan posisi long maupun short untuk menghadapi berbagai kondisi pasar. Artikel ini juga membahas data long/short dan open interest sebagai gambaran positioning pelaku pasar serta risiko yang perlu diperhatikan dalam futures trading. Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai keputusan FOMC dapat memengaruhi pergerakan aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum melalui perubahan suku bunga, ekspektasi kebijakan moneter, likuiditas, dan sentimen pasar.  Tetapi, dampaknya tidak selalu berarti harga kripto akan naik atau turun secara langsung. Respons pasar juga bergantung pada apakah keputusan The Fed sesuai dengan ekspektasi, serta bagaimana pelaku pasar menilai arah kebijakan moneter berikutnya. Berdasarkan jadwal resmi Federal Reserve, FOMC menggelar pertemuan pada 15–16 September 2026 waktu AS. Selain keputusan suku bunga, pasar juga akan mencermati pernyataan dan proyeksi ekonomi The Fed untuk melihat arah kebijakan berikutnya. Mengapa FOMC Dapat Memengaruhi Aset Kripto? Pengaruh FOMC terhadap aset kripto tidak hanya berasal dari keputusan suku bunga, tetapi juga dari perubahan ekspektasi pasar. Data ekonomi seperti inflasi menjadi salah satu indikator yang diperhatikan karena dapat mengubah perkiraan terhadap arah kebijakan The Fed. Hal tersebut terlihat pada Juni 2026. Berdasarkan laporan CoinDesk pada Juli 2026 data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan membuat probabilitas kenaikan suku bunga The Fed turun dari 43% menjadi 13%. Pada saat yang sama, Bitcoin naik sekitar 3,6% ke sekitar US$64.800, sedangkan Ether naik sekitar 5,3%.  Menjelang FOMC September, perhatian pasar kembali tertuju pada perkembangan inflasi. Reuters melaporkan bahwa CPI AS pada Agustus naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan. Perkembangan tersebut mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan September. “FOMC menjadi salah satu faktor makroekonomi yang penting untuk diperhatikan karena keputusan dan komunikasi The Fed dapat memengaruhi ekspektasi pasar. Namun, dampaknya terhadap aset kripto tetap perlu dilihat bersama faktor ekonomi dan kondisi pasar lainnya,” kata Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn.  Respons Bitcoin dan Ethereum Tidak Selalu Sama Pergerakan Bitcoin dan Ethereum setelah FOMC dapat bergantung pada bagaimana keputusan The Fed dibandingkan dengan ekspektasi yang telah terbentuk. Keputusan yang sesuai dengan perkiraan pasar dapat menghasilkan respons yang berbeda dibandingkan kebijakan yang lebih hawkish atau dovish dari perkiraan. Selain itu, dampak kebijakan moneter dapat tercermin sebelum keputusan FOMC diumumkan karena pelaku pasar terus menyesuaikan posisi berdasarkan data ekonomi terbaru. “Yang perlu diperhatikan bukan hanya keputusan suku bunganya, tetapi juga bagaimana keputusan tersebut dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Pernyataan dan proyeksi The Fed juga dapat menjadi perhatian karena memberikan gambaran mengenai arah kebijakan berikutnya,” ulas Ryan. Meski demikian, FOMC bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi harga aset kripto. Kondisi ekonomi AS, pergerakan dolar, likuiditas global, arus dana, sentimen pasar, serta perkembangan di industri kripto juga dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin, Ethereum, dan aset lainnya. Data Derivatif Memberikan Gambaran Sentimen Pasar Selain pergerakan harga, data pasar derivatif seperti long/short positions dan open interest dapat memberikan gambaran tambahan mengenai positioning pelaku pasar di tengah ketidakpastian. Berdasarkan data pasar global (Binance/USA) yang diamati pada 15 September 2026 sore, sebanyak 73,76% investor mengambil posisi long pada kontrak ETHUSDT perpetual, sementara 26,24% berada pada posisi short. Long/Short Ratio tercatat sebesar 2,81. Sementara, pada kontrak BTCUSDT perpetual, sebanyak 58,88% akun secara global berada pada posisi long, sedangkan 41,12% mengambil posisi short. Rasio long/short tercatat 1,43. Posisi long dan short menunjukkan eksposur pelaku pasar terhadap pergerakan harga, sedangkan open interest menunjukkan jumlah kontrak derivatif yang masih terbuka. Data tersebut dapat digunakan untuk memahami perubahan positioning sebelum dan setelah agenda ekonomi penting seperti FOMC. Namun, data positioning bukan merupakan indikator pasti mengenai arah harga. Posisi dapat berubah dengan cepat ketika volatilitas meningkat setelah rilis data ekonomi atau keputusan bank sentral. “Data long, short, dan open interest dapat memberikan konteks mengenai sentimen serta aktivitas di pasar derivatif. Tetapi data tersebut tidak dapat dianggap sebagai kepastian arah harga karena positioning dapat berubah dengan cepat ketika kondisi pasar berubah,” terang Ryan. Di tengah kondisi pasar yang dapat berubah setelah agenda ekonomi penting, Bittime Futures menyediakan akses terhadap perdagangan futures aset kripto yang memungkinkan pengguna mengelola posisi long maupun short. Fleksibilitas tersebut dapat digunakan untuk menghadapi berbagai kondisi pasar, tetapi futures trading juga memiliki risiko, termasuk risiko dari pergerakan harga dan penggunaan leverage. Pengguna perlu memahami karakteristik produk dan risikonya sebelum melakukan transaksi. Pada akhirnya, FOMC dapat menjadi salah satu katalis bagi pasar kripto, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan harga. Memahami kebijakan The Fed, data ekonomi AS, ekspektasi pasar, dan kondisi pasar secara keseluruhan tetap penting untuk melihat dinamika aset kripto secara lebih menyeluruh.

Bitcoin Tembus US$80.000, Pasar Diuji Transisi The Fed dan Perpecahan FOMC Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 08 Mei 2026 | 11:00 WIB

Bitcoin Tembus US$80.000, Pasar Diuji Transisi The Fed dan Perpecahan FOMC

Jakarta, katakabar.com - Pasar global memasuki fase transisi krusial. Di mana sepekan belakangan ini, investor dihadapkan pada tiga perkembangan utama, yakni pertemuan terakhir Federal Reserve di bawah kepemimpinan Jerome Powell, meningkatnya perpecahan internal dalam Federal Open Market Committee (FOMC), dan volatilitas tajam di pasar kripto pasca pengumuman kebijakan moneter.  Kombinasi ini menunjukkan pasar tidak sekadar bereaksi terhadap peristiwa jangka pendek, tetapi sedang menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan global, likuiditas, dan risk appetite ke depan.  Pada 29 April 2026 lalu, Jerome Powell memimpin pertemuan FOMC terakhirnya sebagai Ketua The Fed. Suku bunga dipertahankan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen untuk ketiga kalinya berturut-turut, menegaskan pendekatan data-dependent di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.  Di saat yang sama, Komite Perbankan Senat AS meloloskan nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya dengan selisih tipis. Jika disahkan dalam voting penuh Senat dalam waktu dekat, Warsh akan resmi menggantikan Powell di pertengahan Mei, menandai salah satu transisi kepemimpinan paling penting bagi pasar keuangan global tahun ini.  Tetapi, sinyal yang lebih dalam justru datang dari dinamika internal FOMC. Empat anggota menyampaikandissent dalam satu keputusan, fenomena yang jarang terjadi dan mencerminkan perbedaan pandangan yang semakin tajam terkait arah kebijakan moneter ke depan.  Situasi ini memperkuat narasi higher-for-longer. Selama tekanan inflasi, terutama dari sektor energi dan ketegangan geopolitik global, belum mereda, ruang bagi The Fed untuk beralih ke kebijakan yang lebih akomodatif masih terbatas.  Di pasar kripto, Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$80.000 hingga US$81.000, mencerminkan fase konsolidasi setelah reaksi cepat pasca-FOMC. Berdasarkan analisis internal , harga Bitcoin sempat turun sekitar US$1.300 hanya dalam waktu 10 menit setelah pengumuman kebijakan, melanjutkan pola sell-the-news yang telah terjadi dalam 8 dari 9 pertemuan The Fed terakhir.  Fenomena ini menegaskan volatilitas pasca-FOMC merupakan respons jangka pendek terhadap likuiditas dan positioning pasar, bukan refleksi perubahan fundamental. Secara historis, periode 24 hingga 48 jam setelah pengumuman kebijakan sering kali dipenuhi fluktuasi tajam sebelum pasar kembali mengikuti arah tren yang lebih besar.  Di tengah tekanan jangka pendek tersebut, fondasi struktural pasar kripto tetap menunjukkan ketahanan. Arus dana institusional, khususnya melalui produk spot Bitcoin ETF, masih mencerminkan akumulasi yang konsisten. Hal ini mengindikasikan pelaku pasar besar tetap berfokus pada narasi adopsi jangka panjang, bukan volatilitas berbasis peristiwa.  Dari sisi teknikal, area US$75.000 hingga US$76.000 menjadi zona support krusial yang perlu dijaga. Selama level ini bertahan, peluang pemulihan menuju kisaran US$79.000 hingga US$80.000 tetap terbuka, sejalan dengan pola historis pasca-FOMC yang cenderung bersifat sementara.  Tekanan Global Menjalar ke Indonesi: Rupiah dan IHSG Berfluktuasi  Dinamika global tersebut turut memengaruhi pasar domestik. Rupiah bergerak di kisaran Rp17.400 hingga Rp17.425 per dolar AS,  mencerminkan tekanan dari penguatan dolar global pasca-FOMC.  Penguatan ini didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, kenaikan yield US Treasury, serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. (data diambil di 05 May 12.45PM)  Sedang, IHSG menunjukkan volatilitas, dengan pergerakan yang cenderung defensif seiring arus dana asing yang masih berhati-hati terhadap aset emerging markets. Di kondisi seperti ini, arah pasar domestik lebih banyak ditentukan oleh dinamika global, khususnya aliran modal asing, dibandingkan faktor internal jangka pendek.  Beruntung, fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif solid. Cadangan devisa yang kuat, stabilitas fiskal, serta pertumbuhan ekonomi yang terjaga menjadi bantalan penting di tengah tekanan eksternal yang meningkat.  Dari Volatilitas ke Positioning: Cara Membaca Pasar Saat Ini  Pada fase seperti ini, volatilitas bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dipahami.  Bagi investor pemula, koreksi pasca-FOMC tidak seharusnya diartikan sebagai pembalikan tren. Pola ini telah berulang dalam beberapa siklus terakhir dan cenderung bersifat sementara. Strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) tetap relevan untuk membangun posisi secara bertahap tanpa terpengaruh fluktuasi jangka pendek.  Bagi trader, disiplin pada level teknikal dan manajemen risiko menjadi semakin krusial. Area support utama perlu diperhatikan, sementara penggunaan leverage berlebihan dalam kondisi volatilitas tinggi sebaiknya dihindari.  Sementara, investor jangka panjang perlu tetap berfokus pada tren struktural, terutama perkembangan adopsi institusional dan potensi perubahan arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.  Outlook: Pasar Menguji Kesabaran, Bukan Sekadar Arah  Di fase transisi seperti ini, pasar tidak hanya bergerak, pasar menguji.  Di satu sisi, tekanan makro membuat banyak investor cenderung menahan risiko. Di sisi lain, arus dana menunjukkan bahwa pelaku pasar besar tidak sepenuhnya keluar, melainkan melakukan reposisi secara bertahap.  “Kita sedang berada di fase pasar yang tidak nyaman, dan justru di situlah peluang biasanya muncul. Dalam jangka pendek, tekanan makro masih tinggi dan volatilitas tidak akan hilang. Karena itu, sebagian investor mulai lebih taktis, termasuk meningkatkan alokasi ke stablecoin sebagai dry powder,” ujar Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.  “Tapi pertanyaan yang lebih penting bukan apakah pasar akan turun atau naik, melainkan apakah kita siap saat likuiditas kembali masuk. Karena ketika arah kebijakan mulai berubah, pergerakan pasar biasanya terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan,” ulasnya. Ke depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama: konfirmasi penuh Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed serta perkembangan inflasi global, khususnya dari sektor energi.  Jika ekspektasi kebijakan yang lebih akomodatif mulai terbentuk, aset berisiko, termasuk kripto, berpotensi mendapatkan dorongan dalam jangka menengah. Tetapi, selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas kemungkinan akan tetap menjadi bagian dari dinamika pasar.  Eksekusi Tepat: Optimalkan Strategi dengan Limit Order  Di tengah pergerakan pasar yang dinamis, cara melakukan transaksi menjadi faktor yang tidak kalah penting. Salah satu pendekatan yang dapat membantu investor pemula adalah penggunaan fitur Limit Order.  Berbeda dengan Market Order yang mengeksekusi transaksi secara instan pada harga pasar, Limit Order memberikan kontrol lebih besar terhadap harga, sehingga membantu mengurangi risiko slippage dan meningkatkan presisi eksekusi.  “Sering kali, investor sudah memiliki analisis yang tepat, namun hasilnya tidak optimal karena eksekusi yang kurang terkontrol. Dengan Limit Order, pengguna dapat menjalankan strategi mereka dengan lebih disiplin dan terukur,” timpal Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.  Langkah Berikutnya  Di mana pun Anda berada dalam perjalanan investasi, langkah selanjutnya adalah memastikan Anda memiliki pemahaman dan strategi yang tepat.  Bagi pemula, FLOQ menyediakan FLOQ Academy, sebuah platform edukasi yang dirancang untuk membantu pengguna memahami dasar-dasar investasi kripto secara bertahap dan terstruktur. Seluruh materi dapat diakses secara gratis, termasuk seri video edukasi melalui kanal YouTube FLOQ, sehingga pengguna dapat belajar kapan saja sesuai kebutuhan mereka.  Sementara itu, bagi trader yang membutuhkan dukungan lebih lanjut dalam analisis maupun eksekusi transaksi, FLOQ juga menghadirkan layanan Guest Relation dan VIP Service. Dengan dukungan tim trading desk serta layanan yang lebih personal, pengguna dapat memperoleh insight yang lebih mendalam dan pengalaman trading yang lebih optimal. Tim kami dapat dihubungi melalui [email protected]  Layanan ini tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi strategi, tetapi juga mendukung pengelolaan portofolio yang lebih terarah di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.  Tentang FLOQ  FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif dan juga platform yang berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya.  Hingga saat ini, FLOQ telah mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar and 2 juta App downloads dan mendukung 100+ aset digital. Dengan fokus pada pengembangan ekosistem dan kolaborasi strategis, FLOQ bertujuan menghadirkan manfaat nyata bagi penggunanya di era ekonomi digital.

Harga Emas Berupaya Pulih Jelang Risalah FOMC Internasional
Internasional
Kamis, 01 Januari 2026 | 14:31 WIB

Harga Emas Berupaya Pulih Jelang Risalah FOMC

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah mengalami tekanan jual yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Di perdagangan Selasa (30/12), emas spot (XAU/USD) tercatat bergerak menguat terbatas dan diperdagangkan di atas level USD 4.350 pada awal sesi Eropa. Penguatan ini terjadi setelah harga emas sebelumnya merosot sekitar 4,5 persen, yang menjadi penurunan harian terdalam sejak Oktober lalu. Tekanan jual tersebut muncul setelah Chicago Mercantile Exchange (CME) Group mengumumkan kenaikan persyaratan margin pada kontrak berjangka emas dan perak. Kebijakan ini mendorong pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung sekaligus penyesuaian posisi investasi. Kondisi likuiditas pasar yang menurun menjelang libur Tahun Baru turut memperbesar dampak koreksi harga emas. Memasuki perdagangan Rabu (31/12), harga emas masih berada di bawah tekanan. XAU/USD tercatat melemah lebih dari 4 persen dari level tertinggi sepanjang masa di sekitar USD 4.555, mencatatkan kinerja terburuk dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, harga mulai berupaya bangkit dengan bertahan di atas area USD 4.300, seiring meningkatnya minat terhadap aset safe haven di tengah memburuknya sentimen risiko global. Menurut analisis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai secara teknikal pergerakan emas saat ini mengindikasikan melemahnya tren naik. Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan indikator Moving Average, menunjukkan bahwa momentum bullish XAU/USD mulai berkurang. Situasi ini membuka peluang terjadinya fase konsolidasi, bahkan koreksi lanjutan dalam jangka pendek. Andy Nugraha menjelaskan di perdagangan saat ini, peluang penguatan emas masih ada, namun cenderung terbatas. Apabila tekanan beli kembali mendominasi pasar, XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji area resistance di sekitar level USD 4.403. Sebaliknya, jika harga gagal mempertahankan momentum kenaikan dan kembali tertekan, maka potensi pelemahan terdekat diperkirakan mengarah ke area support di kisaran USD 4.308. Dari sisi fundamental, dinamika geopolitik global masih menjadi faktor yang menopang pergerakan harga emas. Rusia pada awal pekan ini menyatakan akan mengevaluasi kembali sikapnya terkait pembicaraan damai dengan Ukraina, menyusul tuduhan serangan pesawat tak berawak terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin. Meski klaim tersebut dibantah oleh pihak Ukraina, ketegangan ini tetap meningkatkan kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik. Di kawasan Asia, situasi geopolitik juga memanas setelah Tiongkok memperpanjang latihan militernya di sekitar Taiwan untuk hari kedua berturut-turut. Sementara, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan peringatan terkait kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran jika negara tersebut melanjutkan program senjata nuklirnya. Kondisi ini memperkuat peran emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Fokus pelaku pasar kini beralih ke agenda ekonomi utama, yakni rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dari Federal Reserve AS. Dokumen ini diperkirakan akan memberikan sinyal tambahan terkait arah kebijakan suku bunga ke depan, yang berpotensi memengaruhi pergerakan Dolar AS dan harga emas. Meski volatilitas jangka pendek masih tinggi dan volume perdagangan diprediksi tetap tipis, Andy Nugraha menilai risiko penurunan emas relatif terbatas. Prospek penurunan suku bunga The Fed pada 2026, serta ketidakpastian ekonomi global yang berlanjut, dinilai masih menjadi faktor pendukung bagi harga emas dalam jangka menengah.

Ini 5 Kripto yang Layak Pantau Efek Hasil Rapat FOMC Ekonomi
Ekonomi
Senin, 30 September 2024 | 21:37 WIB

Ini 5 Kripto yang Layak Pantau Efek Hasil Rapat FOMC

Jakarta, katakabar.com - Hasil rapat FOMC yang memutuskan untuk menurunkan suku bunga memberikan dampak besar pada pasar kripto. Ada setidaknya lima proyek kripto yang patut untuk diwaspadai imbas putusan tersebut. Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) baru-baru ini menghasilkan keputusan penting dengan pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps). Langkah ini dilakukan oleh Federal Reserve untuk menstimulasi ekonomi di tengah ketidakpastian global.