Dominan
Sorotan terbaru dari Tag # Dominan
Institusi Makin Dominan, CEO FLOQ: Retail Tetap Motor Pasar Kripto
Bali, katakabar.com - Pertumbuhan keterlibatan investor institusi diperkirakan bakal mengubah struktur pasar aset kripto pada siklus berikutnya. Namun, besarnya modal institusional tidak serta-merta menghilangkan peran investor retail yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama aktivitas dan adopsi aset digital. CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai institusi dan retail justru akan memainkan dua fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Modal institusional berpotensi memperkuat fondasi dan kedalaman pasar, sementara investor retail memberikan kecepatan sekaligus memperluas partisipasi. “Institusi akan memainkan peran yang semakin signifikan dalam siklus berikutnya. Mereka akan membantu membentuk price floor dan memberikan kedalaman pada pasar. Namun, jika kita ingin membawa kripto menjadi kelas aset yang jauh lebih besar, partisipasi retail tetap dibutuhkan. Institusi bisa membangun fondasinya, tetapi retail yang akan memberikan velocity pada pasar,” kata Yudho. Pandangan tersebut disampaikan Yudho dalam panel bertajuk “Is the Bull Market Dead, or Just Resting?” pada CoinFest Asia 2026 di Bali, 21 Agustus 2026. Panel tersebut membahas kondisi pasar serta bagaimana perubahan struktur industri dapat membentuk siklus aset digital berikutnya. Dalam panel tersebut, Yudho berbagi panggung bersama CEO dan Co-Founder Nansen Alexander Svanevik, Co-Founder Yellow Alexis Sirkia, serta Founder Polyburg Andreas Tobing, dengan Felita Setiawan sebagai moderator. Perspektif Yudho dalam diskusi berfokus pada bagaimana perkembangan pasar global dapat diterjemahkan menjadi strategi yang lebih relevan bagi investor, mulai dari pemula hingga profesional. Indonesia Tunjukkan Kekuatan Retail Menurut Yudho, Indonesia menjadi salah satu contoh bagaimana besarnya basis investor retail dapat menciptakan dinamika pasar yang berbeda dibandingkan negara dengan industri keuangan digital yang lebih matang. “Banyak orang mulai menyerah pada retail, bahkan bagi pelaku industri mungkin lebih mudah untuk hanya berfokus pada institusi. Namun kenyataannya, retail masih merupakan pasar yang sangat besar. Di pasar yang relatif muda seperti Indonesia, masuknya investor retail dalam jumlah besar dapat menjadi salah satu motor utama pertumbuhan berikutnya,” ucapnya. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperlihatkan besarnya basis tersebut. Hingga Juni 2026, jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,69 juta, naik 1,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 22,40 juta akun. Aktivitas transaksinya juga menguat. Nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp28,58 triliun sepanjang Juni 2026, meningkat 24,20 persen dibandingkan Mei 2026 sebesar Rp23,01 triliun. Perkembangan tersebut menunjukkan meski harga aset kripto mengalami berbagai fase naik dan turun, basis pengguna domestik masih terus bertumbuh. Bagi Yudho, kondisi itu penting karena siklus pasar berikutnya kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal yang masuk, tetapi juga seberapa luas teknologi dan aset digital digunakan masyarakat. Institusi Mulai Kembali Masuk Di tingkat global, sinyal kembalinya modal institusi juga mulai terlihat. Survei CoinShares terhadap investor yang mengelola sekitar US$1,16 triliun aset menunjukkan alokasi aset digital dalam portofolio meningkat menjadi 1,2 persen pada survei Juli 2026. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak aksi jual pada Oktober 2025 dan, menurut CoinShares, sepenuhnya didorong oleh peningkatan alokasi investor institusi. Arus modal produk investasi aset digital juga kembali menguat. CoinShares mencatat produk investasi aset digital memperoleh sekitar US$2,2 miliar dalam sepekan hingga 20 Agustus 2026, menjadi arus masuk mingguan terbesar sepanjang tahun berjalan. Dari jumlah tersebut, sekitar US$1,6 miliar mengalir ke produk berbasis Bitcoin. Kondisi ini menguatkan pandangan bahwa institusi semakin menjadi bagian permanen dari struktur pasar kripto, bukan sekadar peserta yang masuk saat harga meningkat. Tetapi, Yudho mengingatkan bahwa institusionalisasi pasar bukan berarti siklus berikutnya akan sepenuhnya menjadi permainan investor besar. “Saya melihat institusi akan semakin kuat dalam menentukan fondasi pasar, tetapi gelombang berikutnya tetap membutuhkan kelompok investor kelas menengah atas dan investor retail. Mereka yang nantinya memperluas partisipasi dan membawa pasar ke skala berikutnya,” jelasnya. Siklus Berikutnya Bisa Berbeda Yudho juga menilai perdebatan mengenai apakah pasar saat ini masih berada dalam fase bull market atau telah memasuki bear market bukan satu-satunya pertanyaan yang relevan. Struktur pasar aset digital kini semakin kompleks. Bitcoin tidak lagi hanya dipengaruhi pola halving dan aktivitas perdagangan retail. Likuiditas global, ETF, derivatif, stablecoin, neraca perusahaan hingga aktivitas onchain kini ikut mempengaruhi pembentukan harga. Karena itu, siklus berikutnya berpotensi memiliki karakter berbeda dengan siklus kripto sebelumnya. Yudho menekankan pentingnya melihat positioning, manajemen risiko, konsistensi investasi dan adopsi struktural ketimbang mencoba menebak secara tepat titik tertinggi maupun terendah pasar. Perubahan juga terlihat dari cara investor retail memperoleh eksposur terhadap aset digital. Investor baru ke depan tidak harus selalu memulai perjalanan dari Bitcoin atau aset kripto spekulatif. Stablecoin, saham yang ditokenisasi hingga berbagai produk keuangan berbasis blockchain membuka pintu masuk baru menuju ekonomi onchain. “Gelombang berikutnya tidak hanya soal membawa lebih banyak orang masuk ke kripto. Kita juga bisa melihat semakin banyak bagian dari sistem keuangan yang masuk ke onchain,” tutur Yudho. Pandangan tersebut sejalan dengan berkembangnya tokenisasi aset tradisional. Tokenized stocks dan ETF disebut sebagai bagian dari evolusi portofolio digital, sehingga diversifikasi ke depan tidak lagi hanya berarti memiliki Bitcoin, Ether dan sejumlah altcoin, tetapi dapat mencakup stablecoin, aset pasar modal yang ditokenisasi serta instrumen lindung nilai bagi investor yang lebih berpengalaman. Yudho menilai perkembangan tersebut dapat memperbesar pasar potensial aset digital sekaligus menjembatani dunia keuangan tradisional dengan infrastruktur blockchain. “Bagian paling menarik dari tokenisasi adalah ketika suatu hari investor tidak lagi harus memilih apakah dirinya investor TradFi atau investor kripto. Infrastruktur digital memungkinkan berbagai kelas aset berada dalam satu portofolio,” terangnya. Meski optimistis terhadap perkembangan tersebut, Yudho menekankan bertambahnya pilihan produk harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi dan kedewasaan investor. Bagi investor baru, disiplin, pengelolaan risiko dan kemampuan bertahan melalui berbagai kondisi pasar dinilai lebih penting daripada mengejar momentum harga jangka pendek. Pada akhirnya, kata CEO FLOQ, institusi mungkin akan memberikan fondasi yang semakin kuat bagi pasar aset digital. Namun, skala ekonomi kripto selanjutnya tetap sangat bergantung pada apakah produk tersebut mampu menjangkau jutaan investor baru dan menjadi bagian dari aktivitas keuangan mereka. “Institusi akan membangun lantainya. Tetapi retail yang akan memberikan kecepatan pada pasar," tambahnya.
Tekanan Global Masih Dominan, Emas Berisiko Lanjutkan Koreksi
Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia (XAU/USD) pada perdagangan hari ini diperkirakan masih berada dalam fase tekanan, seiring menguatnya sentimen negatif dari faktor fundamental dan teknikal global. Analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh Andy Nugraha, selaku analis, menegaskan pergerakan emas saat ini menunjukkan kecenderungan bearish yang semakin solid, sehingga potensi koreksi lanjutan masih terbuka dalam jangka pendek. Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga emas tercatat mengalami penurunan tajam, bahkan sempat merosot hampir 10 persen, dan jatuh ke bawah level psikologis US$4.900. Pelemahan ini terjadi setelah pasar merespons perkembangan politik dan kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pilihannya untuk calon Ketua Federal Reserve. Sentimen tersebut diperkuat data inflasi AS yang masih berada di level tinggi, sehingga memperkuat keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil. Kondisi ini membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai jangka pendek melemah, mengingat investor kembali melirik aset berbunga sebagai alternatif investasi. Memasuki awal pekan, tekanan terhadap harga emas belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada sesi awal Asia hari Senin, XAU/USD kembali tertekan hingga ke area sekitar US$4.780, melanjutkan tren penurunan setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada pekan sebelumnya. Stabilitas politik di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan emas, terutama setelah muncul laporan bahwa Kevin Warsh akan dinominasikan sebagai Ketua The Fed. Figur ini dipandang sebagai kandidat yang relatif moderat dan aman, sehingga kekhawatiran pasar terhadap potensi intervensi politik dalam kebijakan moneter AS mulai berkurang. Andy Nugraha menjelaskan dari sisi teknikal, struktur pergerakan harga emas saat ini menunjukkan penguatan tren turun. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average mengindikasikan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. Secara teknis, XAU/USD masih bergerak fluktuatif di sekitar area psikologis US$5.000, namun belum mampu membentuk sinyal pembalikan arah yang kuat. “Selama harga tidak mampu bertahan dan kembali menguat di atas area resistensi penting, maka peluang pelemahan lanjutan masih terbuka cukup lebar,” jelas Andy. Untuk proyeksi pergerakan hari ini, Dupoin Futures memetakan dua skenario utama. Jika tekanan bearish berlanjut secara konsisten, maka harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support di kisaran level 4.594. Area ini menjadi titik teknikal penting yang berpotensi menjadi target penurunan jangka pendek. Sebaliknya, apabila harga gagal menembus level tersebut dan terjadi koreksi teknikal, maka peluang kenaikan terdekat diperkirakan berada di sekitar area 4.584 sebagai resistance awal. Dari sisi fundamental, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk laporan Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar. Selain itu, data inflasi produsen AS yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan tekanan inflasi masih bertahan. Indeks Harga Produsen (PPI) Desember tercatat naik 3% secara tahunan, sementara PPI inti meningkat menjadi 3,3 persen, melampaui ekspektasi konsensus pasar. Data ini mengindikasikan tekanan biaya di sektor produksi masih cukup tinggi, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat menjadi lebih terbatas. Meski sentimen negatif mendominasi, faktor geopolitik tetap menjadi variabel penting yang dapat menahan tekanan penurunan harga emas. Ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah, termasuk meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi mendorong kembali permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Oleh karena itu, volatilitas pergerakan XAU/USD diperkirakan tetap tinggi. Andy Nugraha menekankan dalam kondisi pasar saat ini, investor dan trader perlu mengedepankan manajemen risiko yang disiplin serta memperhatikan kombinasi faktor teknikal dan fundamental. Dengan dominasi tren bearish yang masih kuat, pergerakan emas hari ini diproyeksikan tetap sensitif terhadap rilis data ekonomi, pernyataan pejabat bank sentral, serta perkembangan geopolitik global yang dapat dengan cepat mengubah arah sentimen pasar.
Musrenbang Desa Sekeladi Hilir, Infrastruktur Jalan Dominan Diusulkan Masyarakat
Tanah Putih - Pemerintah Desa Sekeladi Hilir gelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Dusun tahun anggaran 2025 mendatang, di Aual Pertemuan Kantor Kepenghuluan Sekeladi Hilir, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Tokan Hilir, di pekan pertama November 2024 lalu. Di kegiatan itu hadir Datuk Penghulu/ Kepala desa, Jasmi S, BPD/BPKep, Bhabinkamtibmas, Kadus, Tomas, RW, RT, PKK, Karang Taruna, Kader Posyandu, perwakilan dari MDA, MTs, Guru SD, SMP, SMA, dan masyarakat. Menurut Koordinator Kecamatan Tanah Putih, Dodi Akbar, S. IP, M. Si dari Kementerian Desa Daerah Tertinggal, Rabu (11/12), Musrenbang tingkat Desa Sekeladi Hilir, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir landasannya Permendagri Nomor 114 tahun 2014 Bab III.
Ekspor CPO Dominasi Bea Keluar Penerimaan Negara di Riau Per November 2023
Ekspor Pekanbaru, katakabar.com - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) mencatat penerimaan negara di Provinsi Riau telah mencapai angka Rp24,90 triliun, per November 2023. "Kinerja penerimaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di Provinsi Riau mencapai 90,32 persen dari target penerimaan tahun 2023, yang ditetapkan sebesar Rp27,57 triliun," ujar Pelaksa Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Riau, Burhani AS, kemarin, dilansir dari laman dari website resmi Pemprov Riau, pada Sabtu (23/12). Dijelaskan Burhani, penerimaan tersebut berasal dari berbagai sumber, termasuk pajak, bea cukai, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan sebagainya. “Penerimaan terbesar berasal dari sektor pajak mencapai Rp21,22 triliun,” kata Burhani. Menurutnya, penerimaan pajak melibatkan sejumlah komponen, yakni pajak penghasilan sebesar Rp10,05 triliun, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar Rp8,71 triliun, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar Rp2,32 triliun, dan pajak lainnya sebesar Rp139,38 miliar. "Sektor bea cukai turut memberikan kontribusi signifikan dengan penerimaan mencapai Rp2,49 triliun hingga penghujung November 2023," terangnya. Nah kata Burhani, penerimaan dari bea cukai melibatkan bea masuk, bea keluar, dan cukai. Penerimaan dari bea keluar mendominasi di mana sebagian besar berasal dari ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya mencapai Rp2,28 triliun, Tidak hanya itu, sebut Burhani, PNBP ikut sumbang di penerimaan negara di Riau. PNBp hingga 30 November 2023, mencapai Rp1,189 triliun, rinciannya penerimaan PNBP lainnya sebesar Rp753,20 miliar, dan pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) sebesar Rp436,27 miliar. “Dengan capaian ini, Riau membuktikan kontribusi signifikan kepada penerimaan negara, sekaligus menjadi landasan kuat bagi pembangunan dan kebijakan fiskal di masa datang,” tandasnya.