Dummy P07

Jakarta, katakabar.com - Rocky Gerung menuai gelombang kritik dan perundungan publik pasca Presiden Prabowo Subianto melantik dirinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jumat (2/10/2026) di Istana Negara, Jakarta.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai publik tidak perlu melontarkan kritik secara berlebihan hanya karena Rocky memutuskan untuk bergabung ke dalam lingkaran kekuasaan.

Menurutnya, keputusan tersebut merupakan hak politik pribadi yang tentu telah melalui kalkulasi matang dari yang bersangkutan.

Dummy P08

“Saya kira nggak perlu mengkritik Rocky Gerung secara berlebihan, hanya karena bergabung dengan kekuasaan sebagai anggota Wantimpres. Rocky itu juga manusia, Rocky punya hak politik dan punya alasan dan kalkulasi secara matang," ujarnya, dikutip dari wartaekonomi.co.id, Senin (5/10/2026).

Adi tidak menampik jika reaksi keras publik muncul akibat kontrasnya sikap Rocky selama ini. Hal itu lantaran publik terlanjur melekatkan citra "anti-kekuasaan" pada diri Rocky. 

Terlebih publik mengingat rekam jejaknya kerap melontarkan kritik tajam, seolah memosisikan kekuasaan sebagai hal yang buruk dan menempatkan argumennya sebagai yang paling benar.

Dummy P10

Perubahan haluan ini, kata Adi, praktis memicu keheranan publik, terlebih Rocky kini harus duduk bersama dalam satu lembaga dengan figur-figur yang selama ini menjadi sasaran kritik pedasnya.

“Tapi saya membayangkan bagaimana suasana kebatinan Rocky kalau satu kantor dengan Qodari dan Anwar Usman, dua sosok yang sering dikritik diserang agresif oleh Rocky, dan sikap politiknya Rocky ke depan karena ia dianggap paling sering keras menyerang Wapres Gibran," imbuhnya.

Adi melihat dinamika ini sebagai tontonan menarik di mana figur-figur yang kerap "tawuran" opini di ruang publik pada akhirnya bisa berada dalam satu ritme kerja yang sama di dalam pemerintahan.

Ia berpesan kepada masyarakat agar tidak terlampau baper atau bersikap terlalu keras dalam menyikapi dinamika politik, mengingat kepentingan kekuasaan kerap kali mencairkan sekat-sekat pertikaian antar tokoh.

"Yang suka tawuran opini politik ternyata bisa berada dalam satu ritme yang sama. Di negara kita jangan terlampau ngotot karena urusan politik, jangan sadis-sadis juga, kalau pada akhirnya kekuasaan itu juga mengubah iman politik kita," katanya.

Dummy P09