Dummy P07

Bandung, katakabar.com -- Ada banyak buku yang bercerita tentang perjalanan, tetapi tidak banyak buku yang mengajak pembacanya benar-benar berangkat. Buku Petunjuk Praktis Touring Bersepeda: Panduan Lengkap untuk Perjalanan Jauh dengan Sepeda karya Taufik Abriansyah berada di antara keduanya.

 

Buku tipis ini, hanya 60 halaman, tidak menawarkan teori bersepeda yang rumit, apalagi hendak menjadikan pembacanya seorang atlet. Ia justru menawarkan sesuatu yang lebih sederhana: keberanian untuk mencoba.

 

Pesannya terasa sejak awal: touring bersepeda bukan perlombaan. Yang penting bukan menjadi pesepeda tercepat atau menempuh jarak terjauh, melainkan menikmati perjalanan dan pulang dengan selamat.

 

Dummy P08

“Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu kayuhan pertama.” Kalimat itu barangkali menjadi semacam ruh buku ini. Dan itu pula yang diucapkannya dalam perbincangan dengan wartawan katakabar.com, Taufik Alwie, beberapa waktu lalu. “Kalau tidak mulai mengayuh, kapan gowesnya,” ujarnya sambil tertawa.

 

Dan kalimat tersebut terasa jauh lebih kuat karena ditulis oleh seseorang yang memang sudah berkali-kali membuktikannya di jalan.

 

Dari Wartawan Menjadi Goweser Penjelajah

 

Dummy P10

Taufik Abriansyah bukan nama baru dalam dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi wartawan Majalah TEMPO dan GATRA. Bahkan pengalaman jurnalistiknya sudah lama bersentuhan dengan dunia peliputan lapangan di pelosok Nusantara. 

Namun setelah tidak lagi aktif sebagai jurnalis, dunia Taufik seakan menemukan “ruang redaksi” baru: jalan raya. Sepeda menjadi alat liputnya. Jalan menjadi halaman catatannya. Dan Indonesia menjadi reportasenya.

 

Pada 2023, warga Cipageran, Bandung Barat, ini mengikuti Touring Lintas Komunitas 3 Negara (TLK3N), menjelajahi Singapura, Malaysia, dan Thailand. Itu merupakan pengalaman pertamanya menggowes di luar Indonesia.

 

Setahun kemudian, tantangannya menjadi jauh lebih besar. Pada 19 Juli 2024 ia berangkat dari Cipageran, Bandung Barat, menuju Kilometer Nol Indonesia di Sabang. Ia menempuh sekitar 3.300 kilometer, melintasi 69 kabupaten/kota dan sembilan provinsi, seorang diri dan secara mandiri.

 

Belum cukup sampai di ujung barat Indonesia, Taufik kemudian bergerak menuju ujung timur. Pada 2025, ia kembali mengayuh dari Bandung Barat menuju Merauke. Perjalanan itu berlangsung 56 hari, menempuh sekitar 2.700 kilometer dengan melewati 11 pulau, 10 provinsi dan 68 kabupaten/kota. Sebagian perjalanan ditempuh dengan sepeda, sebagian lainnya menggunakan kapal Pelni untuk menyeberangi wilayah kepulauan Indonesia.

 

Dengan demikian, pengalaman Taufik praktis sudah menjadi “laboratorium berjalan” bagi buku ini.

 

Buku yang Tidak Menggurui

 

Inilah salah satu kekuatan buku ini. Taufik tidak menempatkan dirinya sebagai guru yang sedang mengajari murid. Ia lebih seperti seorang teman yang duduk sambil minum kopi lalu berkata, “Kalau kamu mau touring, kira-kira begini yang perlu kamu siapkan.”

 

Struktur bukunya sederhana dan praktis. Setelah pengantar, pembaca diajak memahami makna touring, menentukan tujuan, mempersiapkan mental, memilih perlengkapan, menjaga stamina, mengelola biaya, meminta restu keluarga, memanfaatkan media sosial, hingga melihat kembali rekam jejak perjalanan sang penulis.

 

Bagi pemula, susunan semacam ini sangat membantu karena pertanyaan-pertanyaan yang biasanya muncul sebelum touring sudah disentuh satu per satu. Mau mulai dari mana?

 

Menurut Taufik, jangan langsung berpikir ribuan kilometer. Ia menyarankan pemula memulai dari perjalanan 50–100 kilometer dalam sehari, atau perjalanan dua hari satu malam. Setelah terbiasa, jaraknya ditingkatkan secara bertahap.

 

Nasihat itu sederhana, tetapi penting. Sebab banyak orang gagal memulai bukan karena tidak mampu bersepeda, melainkan karena sejak awal membayangkan perjalanan yang terlalu besar.

 

Bukan Sekadar Sepeda dan Jalan

 

Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada urusan teknis. Taufik memasukkan satu bab khusus mengenai persiapan mental. Baginya, setelah ratusan kilometer ditempuh, bukan kaki saja yang diuji. Pikiran pun ikut bekerja.

 

Hujan, panas, ban bocor, jalan rusak, angin kencang, jadwal kapal berubah, atau sepeda rusak adalah bagian dari kemungkinan yang harus diterima.

 

Karena itu, ia mengingatkan agar perjalanan panjang tidak dipandang sebagai satu jarak yang mengerikan. Pecahlah menjadi etape-etape kecil. Target 2.000 atau 3.000 kilometer akan terasa berat jika dilihat sekaligus. Tetapi 60–100 kilometer per hari terasa lebih masuk akal. “Perjalanan panjang selalu diselesaikan sedikit demi sedikit,” katanya.

 

Ini mungkin salah satu pelajaran terbaik dari buku tersebut. Ia tidak hanya berlaku bagi pesepeda, tetapi juga bagi siapa pun yang sedang mengejar tujuan besar dalam hidup.

 

Pannier, Kompor, dan Sedikit Kenekatan

 

Bagian perlengkapan menjadi salah satu bagian yang paling “Taufik Abriansyah”. Ia bahkan mengawali pembahasannya dengan humor khas seorang pelancong: “Yang penting bawa uang saja yang banyak. Mau ngopi tinggal masuk hotel. Mau cari warung, mau nginap tinggal masuk hotel.”

 

Tetapi ia ternyata bukan tipe pelancong yang sepenuhnya mengandalkan hotel dan warung. Dalam pannier-nya, ia membawa kompor, bahan makanan, perlengkapan tidur, gadget, obat-obatan, onderdil sepeda, pakaian, perlengkapan mandi hingga dokumen identitas.

 

Daftarnya cukup panjang. Ada tenda, sleeping bag, kompor portable, panci, termos, pompa, ban cadangan, kunci tambal ban, minyak rantai, jas hujan, kabel ties dan berbagai perlengkapan lain. Bahkan untuk urusan makanan darurat, ia membawa mi instan, sambal, abon, bumbu pecel, kurma, gula merah dan kopi.

 

Di sinilah pengalaman lapangan terasa. Ini bukan daftar perlengkapan hasil browsing internet. Ini daftar barang yang lahir dari pengalaman seorang manusia yang pernah benar-benar berada jauh dari warung, jauh dari bengkel, dan jauh dari rumah.

 

Touring Juga Mengajarkan Hemat

 

Bab mengenai biaya juga patut mendapat perhatian. Taufik menunjukkan bahwa touring jarak jauh tidak otomatis identik dengan biaya besar. Yang dibutuhkan adalah perencanaan. Ia menyarankan membuat anggaran sejak awal, menentukan batas pengeluaran harian, membawa cadangan makanan, memilih penginapan sesuai kebutuhan, dan menyisihkan sekitar 10–20 persen anggaran sebagai dana darurat.

 

Bagi sebagian orang, pilihan seperti menginap di masjid, camping atau rumah teman mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah filosofi touring Taufik terlihat: perjalanan tidak harus mahal untuk menjadi berharga.

 

Dalam perjalanan Bandung–Merauke, pengalaman semacam itu bukan sekadar teori. Media mencatat bagaimana ia beberapa kali mendapatkan bantuan dari orang-orang yang sebelumnya tidak dikenalnya. Di Sumbawa, misalnya, seorang perantau asal Sunda bernama Aki Memet bahkan mengantar Taufik hingga batas kota.

 

Jalan raya, dalam pengalaman Taufik, ternyata mempertemukan manusia dengan manusia.

 

Restu Keluarga: Bab yang Sering Dilupakan

 

Salah satu bagian yang membuat buku ini berbeda adalah adanya bab “Restu Keluarga.” Bagi sebagian pesepeda, mungkin bagian ini terdengar tidak berhubungan langsung dengan teknik touring. Tetapi bagi Taufik, restu keluarga adalah perlengkapan yang tidak kalah penting dari sepeda, pannier atau peta.

 

Keluarga harus mengetahui tujuan, rute, lama perjalanan dan cara menghubungi pesepeda apabila terjadi keadaan darurat. Sebab ada orang yang berangkat, tetapi ada pula orang yang menunggu di rumah.

 

Kalimatnya sederhana: “Selalu ada orang-orang yang menanti kita pulang dengan selamat.”

 

Barangkali inilah salah satu sisi paling manusiawi dari buku tersebut. Touring bukan hanya tentang keberanian meninggalkan rumah, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk kembali.

 

Dari Sabang hingga Merauke

Kredibilitas buku ini semakin kuat karena pada bagian akhir Taufik tidak sekadar bercerita mengenai apa yang seharusnya dilakukan. Ia menunjukkan apa yang sudah dilakukannya.

 

Rekam jejak itu cukup panjang. Seperti telah disinggung di awal, ia pernah melakukan touring Bandung–Mandalika, keliling Jawa, keliling Bali, keliling Madura, kemudian touring tiga negara: Singapura, Malaysia dan Thailand. Pada 2024 ia menuntaskan perjalanan Cipageran–Sabang sekitar 3.300 kilometer.

 

Pada 2025, ia menyelesaikan perjalanan Cipageran–Merauke. Dari Bandung Barat ia mengayuh melintasi Jawa hingga Banyuwangi, kemudian Bali, Lombok, Sumbawa dan Flores sebelum melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Papua.

 

Di Merauke, perjalanan itu belum dianggap selesai sebelum ia mengayuh lagi menuju Sota, titik Kilometer Nol Indonesia di perbatasan Papua dengan Papua Nugini. Catatan hari ke-56 perjalanannya merekam momen tersebut.

 

Dengan pencapaian itu, Taufik memang pantas mengatakan bahwa ia telah bersepeda dari Sabang sampai Merauke—meski tentu dengan sejumlah etape antarpulau yang ditempuh menggunakan kapal.

 

Dan pengalaman tersebut bukan berhenti sebagai cerita pribadi. Pada Agustus 2025, setelah kembali ke Bandung Barat, Taufik menyerahkan buku perjalanan Gowes ke Merauke kepada PWI Pusat.

 

Wartawan yang Membawa Naluri Reportase ke Atas Sadel

 

Ada satu hal yang terasa kuat dalam sosok Taufik: naluri wartawannya belum hilang ketika ia mengayuh sepeda. Ia tidak sekadar mencatat berapa kilometer yang ditempuh. Ia mencatat manusia.

 

Dalam catatan perjalanannya, kita menemukan cerita tentang orang yang memberikan sarapan, goweser lokal yang mengantar keluar kota, penginapan murah yang bersahabat, prajurit yang membantu menurunkan sepeda dari kapal, hingga seorang anak Papua yang ditemuinya kembali di Merauke.

 

Salah satu catatan dari etape terakhir bahkan memperlihatkan bagaimana seorang anak Papua yang lapar menghampirinya dengan bahasa isyarat. Taufik kemudian mengajaknya makan. Kisah kecil seperti ini justru memperlihatkan bahwa perjalanan panjang sering kali menghasilkan cerita yang jauh lebih besar daripada angka kilometer.

 

Itulah kekuatan seorang wartawan ketika menjadi pelancong: ia tidak hanya melihat jalan, tetapi juga memperhatikan manusia yang hidup di sepanjang jalan.

Kelebihan dan Catatan

 

Sebagai buku petunjuk praktis, Mengayuh Petualangan memiliki kelebihan utama pada pengalaman langsung penulis. Bahasanya ringan. Pembahasannya praktis. Daftar perlengkapannya konkret. Ada pembahasan mental, stamina, biaya, keluarga dan media sosial. Semua itu membuat buku ini cocok bagi orang yang baru mulai memikirkan touring jarak jauh.

 

Namun justru karena sifatnya praktis, buku ini masih bisa dikembangkan lebih jauh pada edisi berikutnya. Misalnya, pembaca akan semakin terbantu apabila dilengkapi tabel checklist sebelum berangkat, contoh packing list berdasarkan durasi perjalanan, contoh anggaran harian, contoh rencana latihan beberapa minggu sebelum touring, serta panduan menghadapi situasi darurat. Pengalaman rute Sabang dan Merauke juga akan sangat menarik jika suatu saat dikembangkan menjadi peta perjalanan yang lebih detail.

 

Artinya, kekurangan tersebut bukan kelemahan mendasar. Justru merupakan peluang untuk menjadikan buku ini semacam “manual touring” yang semakin lengkap.

 

Yang jelas, buku ini bukanlah tentang bagaimana menjadi pesepeda hebat. Buku ini justru mengajarkan bahwa kita tidak perlu menjadi hebat terlebih dahulu untuk memulai perjalanan.

Tidak perlu sepeda paling mahal. Tidak perlu perlengkapan paling lengkap. Tidak perlu langsung menempuh ribuan kilometer.

 

Yang diperlukan adalah keberanian untuk memulai, persiapan yang masuk akal, kemampuan mendengarkan tubuh, kesabaran menghadapi jalan dan tentu saja kemampuan untuk menikmati perjalanan.

 

Taufik sendiri menulis bahwa keberhasilan touring bukan semata-mata diukur dari seberapa jauh seseorang mengayuh, melainkan dari seberapa banyak pelajaran, persahabatan dan kenangan yang dibawa pulang.

 

Mungkin itu pula yang membuat buku ini terasa seperti sebuah kabar baik. Di tengah kehidupan yang semakin cepat, buku ini seolah mengajak kita memperlambat laju. Melihat sawah, menyapa orang di pinggir jalan, berhenti minum kopi, menikmati matahari terbit. Menghadapi tanjakan, menerima hujan. Lalu kembali mengayuh.

 

Sebab, seperti pesan yang berulang kali muncul dalam buku ini, tujuan bukanlah satu-satunya alasan seseorang melakukan perjalanan. Kadang-kadang, justru perjalanan itulah tujuannya.-

 

 

Dummy P09